Tampilkan postingan dengan label Model Interaksi Edukatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Model Interaksi Edukatif. Tampilkan semua postingan
Bahan Ajar, Perangkat Pembelajaran dan Kurikulum 2013 SD
Label:
Bahan Ajar,
CD Interaktive,
Model Interaksi Edukatif,
Multimedia,
Perangkat Pembelajaran,
sertifikasi guru,
Silabus dan RPP,
UKG
Training Of Trainer Pemanfaatan TIK GRATIS
Rekomendasi Mengikuti TOT bagi Pemenang Lomba MPI
Kami sudah mengirimkan surat ke DInas Pendidikan Kabupaten / Kota se-Jawa Tengah perihal juara lomba MPI kemarin agar dapat direkomendasi mengikuti TOT. Berikut Surat yang kami kirim ke Dinas Kabupaten / Kota
Surat : http://www.4shared.com/document/2crbVgIG/surat.html
Lmpiran : http://www.4shared.com/document/2WumT3eW/lampiran.html
Training Of Trainer Pemanfaatan TIK
Untuk Pembelajaran bagi Guru di Jawa Tengah
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melalui Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BPTIKP) akan mengadakan TOT Pemanfaatan TIK untuk Pembelajaran
Untuk mempublikasi kegiatan tersebut kepada masyarakat luas, BPTIKP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah pada senin, 22 Agustus 2011 melayangkan surat kepada Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota perihal Kegiatan TOT tersebut.
Persyaratan peserta :
Panduan TOT Guru SD dan SMP : http://www.4shared.com/document/6i_0PQFF/panduan_TOT_Dikdas.html?
Panduan TOT Guru SMA dan SMK : http://www.4shared.com/document/QY9VwAUA/panduan_TOT_Dikmen.html?
Kami sudah mengirimkan surat ke DInas Pendidikan Kabupaten / Kota se-Jawa Tengah perihal juara lomba MPI kemarin agar dapat direkomendasi mengikuti TOT. Berikut Surat yang kami kirim ke Dinas Kabupaten / Kota
Surat : http://www.4shared.com/document/2crbVgIG/surat.html
Lmpiran : http://www.4shared.com/document/2WumT3eW/lampiran.html
Training Of Trainer Pemanfaatan TIK
Untuk Pembelajaran bagi Guru di Jawa Tengah
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melalui Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BPTIKP) akan mengadakan TOT Pemanfaatan TIK untuk Pembelajaran
Untuk mempublikasi kegiatan tersebut kepada masyarakat luas, BPTIKP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah pada senin, 22 Agustus 2011 melayangkan surat kepada Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota perihal Kegiatan TOT tersebut.
Persyaratan peserta :
- Memiliki kemampuan mengoperasikan komputer dan Internet;
- Memiliki sekurang-kurangnya 1 (satu) karya Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI);
- Mengisi formulir pendaftaran;
- Bersedia menandatangani kontak (Surat Perjanjian) untuk melatih minimal 20 orang partisipan guru baik melalui pola Peer Coaching maupun Training di masing-masing Kab/ Kota dengan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota atau UPTD Dinas Pendidikan Kab/ Kota atau MGMP atau KKG;
- Mendapat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kab/ Kota;
- Guru yang memenuhi persyaratan dapat proaktif menghubungi Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota masing-masing;
- Membawa RPP dan bahan ajar;
- Membawa Laptop;
- Membawa pas photo terbaru ukuran 3x4 sebanyak 2 (dua) lembar;
- Membawa surat tugas dari atasan dengan dilengkapi No. NPWP bersangkutan.
Undangan Guru SD dan SMP : http://www.4shared.com/folder/Rr4qzF90/_online.html
Undangan Guru SMA dan SMK : http://www.4shared.com/file/CXEtOgoF/SMA_SMK.html
Formulir dan Pernyataan : http://www.4shared.com/file/rooizsBB/formulirdoc.html
Bagi guru potensial yang memeuhi kriteria dimaksud dapat menghubungi menghubungi Dinas Pendidikan Kab/Kota setempatPanduan TOT Guru SD dan SMP : http://www.4shared.com/document/6i_0PQFF/panduan_TOT_Dikdas.html?
Panduan TOT Guru SMA dan SMK : http://www.4shared.com/document/QY9VwAUA/panduan_TOT_Dikmen.html?
Jalur komunikasi yang dapat dimanfaatkan adalah :
Atas perhatian dan kerjasama yang baik kami sampaikan terima kasih.Model Interaksi Edukatif untuk Menciptakan Kreativitas Berbahasa Indonesia Siswa Taman Kanak-Kanak
Nurchasanah & Siti Cholisatul Hamidah
Abstract: The kindergarten is an educational institution which aims at
setting up foundations for developing children s attitudes, behaviors,
skills, and creativity necessary for helping them to adjust themselves
to their social environment and to foster their physical and mental development.
To accomplish those aims, it is necessary to invent suitable
learning models. The present research finds out various learning
models used by kindergarten teachers to help the children develop
their language skills in Indonesian; they include imitating, identifying
objects, story telling, demonstrating, singing, reciting nursery rhymes,
assignments, compiling and building, dramatizing, questioning and responding,
commanding and doing, chain whispering, chain storytelling,
role playing, and quizzes through games. These learning models
are used in accordance with the instructional objectives. The teaching
materials and instructional media used are also adjusted to the instructional
objectives.
Interaksi edukatif memiliki peranan penting dalam mengembangkan anak
didik. Interaksi yang positif dan efektif memungkinkan terjadinya peruba-
han tingkah laku anak sesuai dengan tujuan pendidikan. Oleh karena itu,
usaha untuk menciptakan interaksi kreatif dan efektif merupakan kewajiban
bagi setiap guru, khususnya guru Taman Kanak-Kanak (TK) Kota
Malang.
Dalam interaksi kelas terjadi situasi khusus, yaitu situasi
kependidikan atau situasi edukatif. Interaksi yang terjadi dalam situasi
edukatif adalah interaksi edukatif, yaitu interaksi yang berlangsung dalam
ikatan tujuan kependidikan (Surakhmad, 1984).
TK sebagai pendidikan prasekolah berlangsung dalam ikatan tujuan
kependidikan. Dalam kaitannya dengan pengembangan kemampuan
berbahasa sebagai salah satu program kegiatan belajar, TK memiliki
tujuan agar anak mampu berkomunikasi secara lisan. Dengan demikian,
yang dipentingkan dalam tujuan ini adalah kemampuan anak dalam
berbicara dan mendengarkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, hal-hal
yang perlu dikembangkan sesuai dengan PP No. 27 tahun 1990 adalah: (1)
memperkaya kosakata siswa, (2) melatih pendengaran siswa, (3) melatih
siswa agar dapat menjawab dan mengajukan pertanyaan, (4) melatih siswa
agar dapat bercerita, (5) melatih siswa agar dapat memberikan informasi
kepada orang lain, dan (6) melatih siswa untuk dapat menyebutkan sebanyak-
banyaknya suatu benda yang mempunyai sifat-sifat tertentu
(Depdikbud, 1994).
Agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai secara optimal,
guru sebagai pengemban pendidikan mempunyai peranan dan andil
yang sangat besar.
Berbagai model interaksi pembelajaran yang digunakan sangat besar
pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan tersebut. Karena itu, penelitian
ini bertujuan ingin mendeskripsikan (1) model interaksi, (2) bahan
pembelajaran, dan (3) alat bantu pembelajaran yang digunakan guru TK
Kota Malang untuk menciptakan kreativitas berbahasa Indonesia.
Proses penelitian untuk mencapai tujuan penelitian tersebut dilandasi
oleh berbagai teori yang mencakup teori tentang interaksi pembelajaran,
interaksi pembelajaran di TK, analisis interaksi, dan berbagai kebijakan
pembelajaran di TK, khususnya pembelajaran bahasa Indonesia. Untuk
memperjelas landasan-landasan tersebut perlu diuraikan konsep-konsep
teoritis tentang pembelajaran di TK berikut ini.
Interaksi pada dasarnya merupakan salah satu bentuk kegiatan
berkomunikasi. Sebagai kegiatan komunikasi, River (1987) menjelaskan
bahwa interaksi merupakan kegiatan yang melibatkan pengiriman pesan,
penerimaan pesan, dan konteks atau situasi. Interaksi bukan hanya
melibatkan aspek pengekspresian ide semata, melainkan juga melibatkan
aspek pemahaman ide. Dalam memahami ide, pelaku interaksi
mendasarkan diri pada konteks, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik,
serta semua unsur nonverbal yang terkait dengan kegiatan interaksi.
Lebih rinci lagi, Hymes (1974) menjelaskan bahwa interaksi
memiliki konponen-komponen (1) genre atau macam interaksi, misalnya
lawak, percakapan informal, diskusi, dan sebagainya; (2) topik atau fokus
interaksi; (3) tujuan atau fungsi interaksi ; (4) latar interaksi yang
meliputi lokasi, waktu, dan aspek fisik lain; (5) partisipan yang meliputi
unsur usia, seks, kelompok etnis, status sosial, serta hubungan
antarpartisipan; (6) bentuk atau bahasa yang digunakan dalam interaksi;
(7) isi pesan; (8) urutan dalam interaksi; (9) pola atau struktur interaksi;
dan (10) norma interpretasi yang meliputi pengetahuan umum,
praanggapan budaya yang relevan dan acuan khusus.
Seperti dijelaskan di atas bahwa interaksi sebagi kegiatan
komunikasi memiliki beberapa komponen interaksi. Karena itu, muncul
berbagai model interaksi. Dilihat dari medianya, ada dua model interaksi,
yaitu interaksi verbal dan nonverbal yang menggunakan kode-kode
tertentu sebagai medianya. Dilihat dari pelakunya, interaksi dapat
dibedakan menjadi interaksi kelas dan sekolah serta interaksi keluarga
(Sampson, 1976). Dilihat dari arah pelakunya, interaksi dapat dibedakan
menjadi interaksi searah, interaksi dua arah, dan interaksi optimal
(Muslich, Basennang S., dan Nurchasanah; 1987).
Dilihat dari bentuknya, interaksi kelas, khususnya di TK sering
diwujudkan dalam bentuk permainan. Permainan dapat diintegrasikan ke
dalam seluruh area isi kurikulum, misalnya dalam pembelajaran atau
yang lain. Selain permainan, Edmonson (1981) mengemukakan bahwa
interaksi dapat berbentuk rangkaian tindakan yang dapat berupa tanya
jawab, salam-salam, dan perintah respon.
Interaksi pembelajaran di TK memiliki tujuan yang jelas. Interaksi
tersebut bertujuan agar anak mampu berkomunikasi secara lisan. Dengan
demikian, yang menjadi fokus tujuan pembelajaran tersebut adalah
melatih anak untuk bisa berbicara dan mendengarkan. Tujuan tersebut
dapat tercapai dengan memanfaatkan bahan pembelajaran dan alat bantu
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Bahan pembelajaran yang
digunakan di TK terlihat pada kemampuan-kemampuan berbahasa yang
sudah tertera dalam kurikulum (Depdikbud, 1994). Sedangkan alat bantu
pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dapat berupa alat bantu visual
maupun alat bantu kreatif. Alat bantu visual dapat berupa apa saja asal
dapat dilihat, diraba, dirasakan, dan digunakan untuk bermain. Sedangkan
alat bantu kreatif adalah alat bantu yang dapat digunakan anak melakukan
kegiatan kreatif, misalnya dengan membubuhkan sesuatu, memberi warna,
dan menciptakan sesuatu (Priyatni, 1997).
Untuk mengetahui model interaksi, bahan pembelajaran, dan alat
bantu pembelajaran yang digunakan guru TK, perlu adanya metode
tertentu, yaitu metode analisis interaksi. Dengan analisis interaksi akan
diperoleh gambaran pola interaksi tertentu. Analisis interaksi tersebut
perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang akan dievaluasi. Dengan
demikian, analisis interaksi ini sangat bergantung pada tujuan yang
diinginkan. Ada tujuan yang menekan pada aktivitas guru dan ada yang
menekan pada aktivitas murid (Muslich, Basennang S, dan Nurchasanah,
1987). Penelitian ini menggunakan analisis interaksi yang menekan pada
aktivitas guru dan murid dengan pertimbangan bahwa kreativitas belajar
berbahasa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh aktivitas guru saja atau
murid saja, tetapi keduanya sangat berperan dalam menciptakan
kreativitas berbahasa Indonesia.
Dengan tujuan penelitian di atas dan landasan teori-teori yang
digunakan, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan deskripsi model
interaksi, bahan pembelajaran, dan alat bantu pembelajaran yang
digunakan guru TK Kota Malang untuk menciptakan kreativitas berbahasa
Indonesia. Hasil penelitian tersebut dapat memperkaya teori yang sudah
ada, khususnya teori tentang interaksi pembelajaran bahasa Indonesia di
TK.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Dikatakan
desain penelitian kualitatif karena memiliki ciri-ciri (1) data penelitian
berupa data deskriptif, (2) data penelitian bersifat alami, (3) lebih mengutamakan
proses daripada hasil, (4) analisis data dilakukan secara
induktif, dan (5) makna merupakan hal yang mendasar (Bogdan dan
Biklen, 1982)
Berdasarkan rancangan tersebut, data penelitian yang diperoleh
sebelum dideskripsikan secara kualitatif dihitung persentasenya. Hasil
persentase dipakai sebagai dasar pengkualifikasikan data. Data penelitian
kualitatif yang bersifat deskriptif memiliki latar yang bersifat alami karena
data tersebut diperoleh dalam interaksi yang wajar, bukan manipulasi.
Selain itu, penelitian ini menitikberatkan pada proses interaksi guru siswa,
bukan semata-mata pada hasil interaksi dan analisisnya dilakukan secara
induktif, dimulai dari identifikasi setiap proses interaksi sampai pada
penyimpulan pola model interaksi yang digunakan. Hal lain yang juga
menjadi ciri penelitian ini adalah mementingkan makna daripada proses
interaksi.
Sumber data penelitian ini adalah 25 TK di Kota Malang yang
diambil secara acak dari jumlah TK (223 TK) yang ada di Kota Malang.
Data penelitian tersebut dianalisis dengan prosedur (1) pengecekan
keabsahan data, (2) pengidentifikasian dan pengklasifikasian data, (3)
analisis data dengan tahapan : menghitung frekuensi dan presentase,
memasukkan hasil perhitungan frekuensi dan persentase ke dalam tabel,
dan menentukan hasil dan bahasannya. Hasil penelitian ditentukan
dengan cara mendeskripsikan model interaksi, bahan pembelajaran, dan
alat bantu pembelajaran yang digunakan berdasarkan hasil pentabelan
data. Hasil yang sudah ditentukan dibahas (1) kesesuaiannya dengan teori,
(2) kecenderungan pemakaiannya, dan (3) dapat tidaknya menciptakan
kreativitas berbahasa Indonesia.
HASIL PENELITIAN DAN BAHASANNYA
Berdasarkan tujuan penelitian, hasil penelitian ini dapat
dideskripsikan atas tiga bagian berikut ini.
Model Interaksi Untuk Menciptakan Kreativitas Berbahasa Indonesia
Model interaksi pembelajaran untuk menciptakan kreativitas
berbahasa Indonesia terklasifikasi atas enam kategori sesuai dengan
rumusan tujuan pembelajaran yang ada dalam kurikulum TK. Modelmodel
yang dimaksud dapat diuraikan berikut ini.
Pertama, model interaksi yang paling banyak digunakan untuk me
latih penguasaan perbendaharaan kata adalah dengan cara guru bersama
siswa bernyanyi, kemudian guru menjelaskan isi nyanyian dan kata-kata
yang digunakan dalam nyanyian tersebut (80%). Berikutnya, model interaksi
yang digunakan adalah siswa menirukan guru menyebutkan nama
objek yang ditunjuknya (60%); siswa menyebutkan nama objek yang ditunjuk
guru (60%); siswa menirukan syair yang diucapkan guru dengan
kata-kata yang tepat ucapannya (60,4%); siswa bercerita dengan kata-kata
yang diingat dan didengarkan dari cerita guru (50,2%); siswa diajak berwisata
untuk mengenali nama objek tertentu dengan cara menyebutkan
nama atau menirukan nama objek yang ditunjuk guru (40%); siswa disuruh
menceritakan pengalaman dan kegemaran mereka di depan kelas dengan
bahasa sendiri (20%); siswa disuruh menyusun kartu abjad menjadi
kata seperti yang disebutkan guru (20%); siswa disuruh bermain peran
dengan kata-kata sederhana setelah mereka diberi contoh (16%); siswa
disuruh menunjukkan kartu kata sesuai dengan nama objek yang disebutkan
guru (12%); siswa diajak bermain kuis dengan cara menyuruh anak
memberikan contoh kata-kata atau nama-nama objek dalam kelompok tertentu
(8%); dan model interaksi yang paling sedikit persentasenya adalah
siswa disuruh menyusun kartu suku kata menjadi kata seperti yang disebutkan
guru (4%).
Kedua, model interaksi yang paling banyak digunakan oleh guru TK
dalam melatih pendengaran siswa adalah siswa disuruh menjawab pertanyaan
isi cerita yang didengarkannya dari guru, tape recorder, radio,
atau TV (70,6%) dan guru membisikkan sesuatu dengan kata atau kalimat
kepada siswa tertentu dan siswa tersebut disuruh membisikkannya kepada
siswa lain (bisik berangkai) (70,6%). Selain itu, model interaksi yang
digunakan adalah siswa disuruh mengingat dan menceritakan kembali
cerita yang didengarkannya dari guru (60%); guru menyuruh siswa melakukan
tindakan tertentu (60%); siswa menirukan kata-kata atau kalimat
yang didengarkannya dari guru atau siswa lain (40,8%); siswa disuruh
menirukan bunyi tertentu dan disuruh menebak jenis suara apa yang
didengarkannya (8%); dan model interaksi yang persentase pemakaiannya
paling kecil adalah guru menceritakan sesuatu kepada salah
satu siswa dan siswa tersebut disuruh menceritakannya kepada siswa lain
(cerita berangkai) (4%); guru menceritakan isi gambar dan siswa mengamati
isi gambar, kemudian menceritakan isi gambar tersebut seperti yang
telah didengarkannya dari guru (4%); dan siswa disuruh menirukan urutan
kata yang sesuai dengan apa yang didengarkannya dari guru (4%).
Ketiga, model interaksi yang paling banyak digunakan guru TK untuk
melatih siswa agar dapat menjawab dan mengajukan pertanyaan adalah
guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan
isi ceritera dari guru (80%). Selain itu, model interaksi yang digunakan
adalah guru menyuruh siswa menjawab pertanyaan tentang identitas,
pengalaman, kegemaran, dsb (70,2%); siswa diberi kesempatan mengajukan
pertanyaan tentang sesuatu hal dan guru menjawabnya (40,8%); guru
mengajukan pertanyaan tentang nama alat peraga yang ditunjuk (tiruan/
asli) dan siswa disuruh menjawab pertanyaan tersebut (12%); guru
menyuruh siswa mewarnai gambar, kemudian guru menanyakan jenis
warna setiap bagian gambar dan siswa menjawabnya (8%); dan model interaksi
yang persentasenya paling kecil adalah guru menyuruh siswa untuk
mendramatisasikan cerita yang banyak berisi tanya jawab (4%).
Keempat, model interaksi yang paling banyak digunakan oleh guru
TK untuk melatih siswa agar dapat bercerita secara lancar dan kreatif
adalah siswa disuruh mengamati gambar berseri, kemudian mereka disuruh
menceritakan isi gambar tersebut (60,4%) dan siswa disuruh bercerita
tentang kesenangannya, keluarganya, cita-cita nya, dsb. setelah mereka
mendengarkan contoh dari guru (60,4%). Selain itu, model interaksi yang
digunakan adalah guru bercerita dengan alat bantu nyata atau tiruan, misalnya
dengan boneka dan siswa disuruh mendengarkan (50,2%); siswa
disuruh mendramatisasikan peran-peran tertentu dari cerita yang telah
diceritakan atau dibacakan guru (50,8%); guru membacakan cerita dan
siswa disuruh mendengarkan, menyikapi, dan menjawab pertanyaan isi
cerita (40,8); guru memberikan contoh dramatisasi cerita tertentu dan
siswa menirukannya (40,4%); guru bercerita tanpa alat bantu dan siswa
disuruh mendengarkannya (30,6%); siswa disuruh menggambar bebas,
kemudian siswa disuruh menceritakan isi gambar yang mereka buat (8%);
dan model interaksi yang persentase pemakaiannya paling kecil adalah
guru bercerita kepada salah satu siswa dan siswa tersebut disuruh menceritakannya
kepada siswa lain (cerita-berangkai) (4%).
Kelima, model interaksi yang paling banyak digunakan oleh guru
TK untuk melatih siswa agar dapat memberikan informasi kepada orang
lain adalah siswa menirukan contoh dari guru tentang cara memberikan
informasi kepada orang lain (60,8%). Selain itu, model interaksi yang
digunakan adalah siswa disuruh mengamati objek tertentu, misalnya ciriciri
binatang tertentu, jenis kendaraan, dsb., kemudian siswa tersebut disuruh
menginformasikan kepada teman lain di depan kelas (60,4%); siswa
ditugasi untuk mencari informasi temannya yang sakit, tidak masuk sekolah
dsb.,kemudian siswa tersebut disuruh memberikan informasi itu
kepada teman lain di depan kelas (60%); siswa disuruh memberikan informasi
kepada teman lain tentang pengalamannya, kesukaannya, dsb, secara
bergilir (40,8%); dan model interaksi yang paling kecil persentase
pemakaiannya adalah guru menugasi siswa menyampaikan pesan kepada
orangtua secara lisan dan hasilnya akan dicek guru di depan kelas (8%).
Keenam, model interaksi yang paling banyak digunakan oleh guru
TK untuk melatih siswa agar dapat menyebutkan benda sebanyakbanyaknya
beserta sifatnya adalah siswa menirukan guru menyebutkan
nama benda beserta sifatnya (80,4%). Selain itu, model interaksi yang
digunakan adalah guru membangkitkan ingatan siswa untuk menyebutkan
benda tertentu berdasarkan klasifikasinya dan menyebutkan sifatnya
(70,2%); siswa menyebutkan nama benda yang ditunjuk guru beserta sifatnya
(60,4%); siswa menunjukkan benda tertentu dalam kotak berdasarkan
sifat-sifat tertentu yang telah ditunjukkan guru (60,4%); dan
model interaksi yang paling kecil persentase pemakaiannya adalah guru
menugasi siswa untuk membawa benda tertentu dan menyebutkan nama
beserta sifatnya (30,2%)
Bahan Pembelajaran untuk Menciptakan Kreativitas Berbahasa Indonesia
Wujud dan jenis bahan pembelajaran yang digunakan di TK juga
terklasifikasi atas enam kategori sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam
kurikulum TK. Wujud dan jenis bahan yang dimaksud dapat dirangkum
berikut ini.
Pertama, untuk melatih siswa menguasai perbendaharaan kata bahasa
Indonesia, bahan pembelajaran yang digunakan adalah (1) namanama
objek di lingkungan siswa yang sesuai dengan kurikulum TK, (2)
nama-nama objek di lingkungan siswa yang dianggap penting bagi siswa
walaupun tidak dianjurkan atau tidak sesuai dengan kurikulum TK, (3)
lagu, (4) cerita, dan (5) syair. Dari beberapa bahan tersebut, yang persentase
pemakaiannya paling besar adalah nama-nama objek di lingkungan
siswa yang sesuai dengan kurikulum ditambah nama-nama objek yang dianggap
penting walaupun tidak sesuai dengan kurikulum TK. Sedangkan
yang persentasenya kecil adalah cerita.
Kedua, untuk melatih pendengaran siswa, bahan pembelajaran yang
digunakan adalah (1) kata-kata di lingkungan siswa, (2) kalimat, (3)
cerita, (4) syair, (5) lagu, dan (6) percakapan. Bahan pembelajaran yang
persentase pemakaiannya paling besar adalah syair dan yang paling kecil
persentase pemakaiannya adalah percakapan.
Ketiga, untuk melatih siswa agar dapat menjawab dan mengajukan
pertanyaan, bahan pembelajaran yang digunakan guru adalah (1) cerita
disertai beberapa petanyaan, (2) kata-kata sebagai objek pertanyaan, dan
(3) berbagai jenis kalimat tanya. Cerita yang disertai pertanyaan merupakan
bahan ajar yang persentase pemakaiannya paling tinggi, namun
banyak guru-guru yang kurang memperhatikan jenis pertanyaan yang
digunakan.
Keempat, untuk melatih siswa agar dapat bercerita secara lancar dan
kreatif, bahan pembelajaran yang digunakan adalah (1) cerita nyata, (2)
cerita fiksi, dan (3) pengalaman, kesenangan, cita-cita, dan sebagainya.
Cerita nyata, pengalaman, kesenangan, dan cita-cita siswa merupakan bahan
pembelajaran yang persentase pemakaiannya lebih tinggi daripada
cerita fiksi.
Kelima, untuk melatih siswa agar dapat memberikan informasi
kepada orang lain, bahan pembelajaran yang dimanfaatkan guru adalah
(1) informasi dalam bentuk kaliman, (2) informasi dalam bentuk wacana
utuh, (3) informasi nyata, dan (4) informasi tidak nyata. Informasi dalam
bentuk kalimat yang bersifat nyata persentase pemakaiannya lebih besar
dari pada dalam bentuk wacana dan yang bersifat tidak nyata.
Keenam, untuk melatih siswa agar dapat menyebutkan sebanyakbanyaknya
benda yang mempunyai sifat-sifat tertentu, bahan pembelajaran
yang dimanfaatkan adalah (1) nama-nama benda beserta sifatsifatnya
yang sesuai dengan kurikulum TK, (2) nama-nama benda berserta
sifat-sifatnya yang sesuai dengan kurikulum TK ditambah nama-nama
benda yang dianggap penting bagi siswa walaupun tidak ada dalam kurikulum.
Jenis bahan pembelajaran yang kedua persentase pemakaiannya
lebih besar daripada jenis yang pertama.
Alat Bantu Pembelajaran untuk Menciptakan Kreativitas Berbahasa Indonesia.
Variasi alat bantu pembelajaran yang digunakan guru TK terklasifikasi
atas enam kategori seperti tersebut di atas. Variasi alat bantu tersebut
disimpulkan berikut ini.
Pertama, alat bantu yang digunakan untuk melatih siswa agar dapat
menguasai perbendaharaan kata bahasa Indonesia cukup bervariasi,
seperti (1) objek tiruan: gambar, boneka, dan sebagainya, (2) objek nyata,
(3) buku cerita dan majalah, (4) kartu abjad, (5) kartu suku kata, (6) kartu
kata, (7) lagu, dan (8) syair. Dari beberapa alat bantu tersebut di atas, yang
paling banyak persentase pemakaiannya adalah alat bantu tiruan seperti
gambar, boneka, dsb; dan yang paling kecil persentase pemakaiannya
adalah kartu suku kata.
Kedua, untuk melatih pendengaran siswa, alat bantu pembelajaran
yang digunakan adalah (1) tape recorder, (2) objek tiruan: gambar,
boneka, dsb, (3) buku catatan tentang lagu, syair, dan cerita, (4) majalah
yang berisi lagu, syair dan cerita, serta (5) radio dan TV. Dari beberapa
alat bantu tersebut di atas, yang paling besar persentase pemakaiannya
adalah tape recorder dan yang paling kecil persentase pemakaiannya adalah
TV dan radio.
Ketiga, untuk melatih siswa agar menjawab dan mengajukan pertanyaan,
alat bantu pembelajaran yang digunakan adalah (1) objek tiruan:
boneka, gambar berseri, gambar dinding, (2) objek nyata di lingkungan
siswa, dan (3) buku dan majalah yang berisi objek tertentu, cerita, lagu,
dan syair. Dari beberapa alat bantu tersebut, yang paling besar persentase
pemakaiannya adalah objek nyata dan yang paling kecil persentase pemakaiannya
adalah buku dan majalah.
Keempat, untuk melatih siswa agar dapat bercerita secara lancar dan
kreatif, alat bantu pembelajaran yang digunakan adalah (1) objek nyata,
(2) objek tiruan: gambar, boneka dsb, dan (3) buku cerita, majalah, dan
catatan. Objek tiruan persentase pemakaiannya lebih besar daripada objek
nyata serta buku, majalah, dan catatan.
Kelima, untuk melatih siswa agar dapat memberikan informasi
kepada orang lain, alat bantu pembelajaran yang digunakan adalah (1) objek
nyata di lingkungan siswa, (2) objek tiruan: gambar, boneka, dsb, dan
(3) surat, buku tugas, dan buku penghubung. Dari beberapa alat bantu
tersebut, yang persentase pemakaiannya paling besar adalah objek nyata
dan yang paling kecil persentasenya adalah surat, buku tugas, dan buku
penghubung.
Keenam, untuk melatih siswa agar dapat menyebutkan sebanyakbanyaknya
benda yang mempunyai sifat-sifat tertentu, alat bantu pembelajaran
yang digunakan adalah (1) benda-benda nyata di lingkungan siswa
dan (2) benda-benda tiruan seperti gambar. Benda-benda nyata persentase
pemakaiannya lebih besar daripada benda-benda tiruan.
Berdasarkan temuan di atas ditegaskan bahwa setiap model pembelajaran,
bahan ajar, dan alat bantu pembelajaran ditentukan berdasarkan tujuan
pembelajaran. Adakalanya tujuan pembelajaran berbeda menggunakan
model interaksi, bahan ajar, dan alat bantu pembelajaran yang sama.
Dalam kenyataannya, setiap model interaksi pembelajaran dapat direalisasikan
dalam berbagai bentuk teknik pembelajaran. Ini semua bergantung
pada kreativitas guru.
Model pembelajaran yang digunakan guru TK cukup bervariasi dan
cukup dapat menciptakan kreativitas berbahasa Indonesia. Ini terbukti dari
partisipasi aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Namun demikian,
kadar keaktifan siswa dalam setiap model pembelajaran tentu saja berbeda,
misalnya kadar keaktifan siswa dalam model interaktif menirukan
berbeda dengan model yang lain, seperti bercerita, dramatisasi, dan sebagainya.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini di atas dapat disimpulkan sebagai
berikut. Pertama, untuk melatih penguasaan perbendaharaan kata, model
interaksi yang digunakan guru TK adalah menirukan, menyebutkan nama,
bercerita, bersyair, berwisata, bernyanyi, menyusun, bermain peran, bermain
kuis. Bahan pelajaran untuk mencapai tujuan tersebut adalah namanama
objek di lingkungan siswa sesuai dengan kurikulum TK, nama-nama
objek di lingkungan siswa yang dianggap penting bagi siswa walaupun
tidak ada dalam kurikulum TK, lagu, cerita, dan syair, sedangkan alat
bantu yang digunakan adalah objek tiruan yang berupa gambar, boneka,
dsb; objek nyata, buku cerita dan majalah, kartu abjad, kartu suku kata,
kartu kata, lagu dan syair; Kedua, untuk melatih pendengaran siswa,
model interaksi yang digunakan adalah menirukan, bercerita, menjawab
pertanyaan, perintah-tindakan, bisik-berangkai, dan cerita berangkai; bahan
pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut adalah kata-kata di
lingkungan siswa, kalimat, cerita, syair, lagu, dan percakapan; sedangkan
alat bantu yang digunakan adalah tape recorder, objek tiruan yang berupa
gambar, boneka, dsb; buku catatan tentang lagu, syair dan cerita, serta radio
dan TV; Ketiga, untuk melatih siswa agar dapat menjawab dan mengajukan
pertanyaan, model interaksi yang digunakan guru TK adalah
menjawab dan mengajukan pertanyaan serta dramatisasi; bahan pembelajaran
untuk mencapai tujuan tersebut adalah cerita disertai beberata pertanyaan,
kata-kata sebagai objek pertanyaan, dan berbagai jenis kalimat
tanya, sedangkan alat bantu yang digunakan adalah objek tiruan seperti
boneka, gambar berseri, gambar dinding, dsb; objek nyata di lingkungan
siswa, serta buku dan majalah yang berisi tentang objek tertentu, cerita,
lagu, dan syair; Keempat, untuk melatih siswa agar dapat bercerita secara
lancar dan kreatif, model interaksi yang digunakan guru TK adalah bercerita
dan dramatisasi; bahan pembelajaran untuk mencapaian tujuan tersebut
adalah cerita nyata, cerita fiksi, pengalaman, kesenangan, cita-cita
dsb; sedangakan alat bantu yang digunakan adalah objek nyata, objek tiruan
seperti gambar, boneka dsb; serta buku, majalah, dan catatan; Kelima,
untuk melatih siswa agar dapat memberikan informasi kepada orang
lain, model interaksi yang digunakan guru TK adalah menirukan dan penugasan;
bahan pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut adalah informasi
dalam bentuk kalimat, informasi dalam bentuk wacana utuh, informasi
nyata, dan informasi tidak nyata; sedangkan alat bantu yang digunakan
adalah objek nyata di lingkungan siswa, objek tiruan seperti gambar,
boneka, dsb; surat, buku tugas, dan buku penghubung; Dan terakhir,
untuk melatih siswa agar dapat menyebutkan sebanyak-banyaknya suatu
benda yang mempunyai sifat-sifat tertentu, model interaksi yang digunakan
guru TK adalah menirukan, menyebutkan nama, penugasan, dan
menunjukkan objek; bahan pembelajaran yang digunakan untuk mencapai
tujuan tersebut adalah nama-nama benda serta sifatnya yang dianggap
penting bagi siswa walaupun tidak ada dalam kurikulum. Sedangkan alat
bantu yang digunakan adalah benda-benda nyata di lingkungan siswa serta
benda-benda tiruan seperti gambar.
Simpulan di atas membuktikan bahwa tujuan pembelajaran menentukan
model interaksi, bahan pembelajaran, dan alat bantu yang diguna
kan. Adakalanya tujuannya berbeda menggunakan model interaksi, bahan
pembelajaran, dan alat bantu yang sama. Setiap model interaksi direalisasikan
dalam berbagai teknik pembelajaran. Ini semua bergantung
pada kreativitas guru. Setiap model interaksi, memiliki kadar keaktifan
yang berbeda, baik dari pihak guru maupun siswa. Karena itu, guru perlu
mempertimbangkannya dalam menentukan model interaksi yang digunakan.
SARAN
1. Bagi guru TK disarankan untuk dapat mempertimbangkan dan memilih
model interaksi, bahan, dan alat bantu pembelajaran yang memungkinkan
dapat menciptakan kreativitas yang tinggi bagi siswa
karena setiap model yang digunakan kadar kreativitasnya berbeda,
misalnya model interaksi menirukan dan mencontoh, kadar kreativitasnya
lebih rendah daripada model bercerita dan dramatisasi.
2. Bagi lembaga yang terkait, misalnya Depdikbud dan Depag, diharapkan
dapat bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang untuk melakukan
kegiatan peningkatan profesi guru TK dalam kaitannya dengan
proses pembelajaran di TK dengan cara mengadakan penataran
atau lokakarya agar lembaga-lembaga tersebut dapat saling bertukar
pikiran dan saling membantu dalam mengatasi permasalahanpermasalahan
di TK.
3. Bagi penulis buku dan majalah anak-anak dapat memanfaatkan hasil
penelitian ini sebagai dasar penyusunan strategi pembelajaran dalam
buku dan majalah yang disusunnya.
4. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian sejenis dengan cara :
(1) melakukan penelitian dengan aspek yang sama tetapi populasinya
lebih luas, (2) melakukan penelitian dengan aspek yang sama dalam
wilayah yang lain, (3) melakukan penelitian lanjutan untuk mencari
model interaksi pembelajaran di TK yang dianggap paling efektif dari
beberapa model interaksi yang telah dihasilkan dalam penelitian ini,
dan (4) melakukan penelitian di TK dengan aspek pembelajaran yang
lain.
DAFTAR RUJUKAN
Bogdan, R. C dan S. K, Biklen. 1982 Qualitative Research for Education: An Introduction
to Theory and Methods. London : Allyn and Bacon, Inc.
Depdikbud. 1994. Program Kegiatan Belajar TK. Jakarta : Depdikbud.
Depdikbud. 1995. Sarana Taman Kanak-Kanak. Depdikbud.
Edmoson, W. 1981. Spoken Discourse : A Model Analysis. London : Longman.
Hymes, D. 1974. Foundation in Socioliungstics: An Ethnographioc Approach.
Philadelphia : Univercity of Pennsylvania.
Muslich, Masnur, Basennang S., dan Nurchasanah, 1987, 1987. Dasar
dasar
Interaksi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung, Jemmars.
Priyatni, Endah Tri. 1997. Pengembangan dan Pemasyarakatan Alat Permainan
Sebagai Alat Peraga Interaktif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Malang
: IKIP Malang.
River. W.M. 1987. Interactional Language Teaching. Cambridge : Cambridge
University Oress.
Sampson, Edward G. 1976. Social Psychology and Contemporary Society. New
York: John Willy and Son.
Surakhmad, Winarno, 1984. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar : Dasar dan
Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung : Tarsito.
Sumber: http://sastra.um.ac.id/
Abstract: The kindergarten is an educational institution which aims at
setting up foundations for developing children s attitudes, behaviors,
skills, and creativity necessary for helping them to adjust themselves
to their social environment and to foster their physical and mental development.
To accomplish those aims, it is necessary to invent suitable
learning models. The present research finds out various learning
models used by kindergarten teachers to help the children develop
their language skills in Indonesian; they include imitating, identifying
objects, story telling, demonstrating, singing, reciting nursery rhymes,
assignments, compiling and building, dramatizing, questioning and responding,
commanding and doing, chain whispering, chain storytelling,
role playing, and quizzes through games. These learning models
are used in accordance with the instructional objectives. The teaching
materials and instructional media used are also adjusted to the instructional
objectives.
Interaksi edukatif memiliki peranan penting dalam mengembangkan anak
didik. Interaksi yang positif dan efektif memungkinkan terjadinya peruba-
han tingkah laku anak sesuai dengan tujuan pendidikan. Oleh karena itu,
usaha untuk menciptakan interaksi kreatif dan efektif merupakan kewajiban
bagi setiap guru, khususnya guru Taman Kanak-Kanak (TK) Kota
Malang.
Dalam interaksi kelas terjadi situasi khusus, yaitu situasi
kependidikan atau situasi edukatif. Interaksi yang terjadi dalam situasi
edukatif adalah interaksi edukatif, yaitu interaksi yang berlangsung dalam
ikatan tujuan kependidikan (Surakhmad, 1984).
TK sebagai pendidikan prasekolah berlangsung dalam ikatan tujuan
kependidikan. Dalam kaitannya dengan pengembangan kemampuan
berbahasa sebagai salah satu program kegiatan belajar, TK memiliki
tujuan agar anak mampu berkomunikasi secara lisan. Dengan demikian,
yang dipentingkan dalam tujuan ini adalah kemampuan anak dalam
berbicara dan mendengarkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, hal-hal
yang perlu dikembangkan sesuai dengan PP No. 27 tahun 1990 adalah: (1)
memperkaya kosakata siswa, (2) melatih pendengaran siswa, (3) melatih
siswa agar dapat menjawab dan mengajukan pertanyaan, (4) melatih siswa
agar dapat bercerita, (5) melatih siswa agar dapat memberikan informasi
kepada orang lain, dan (6) melatih siswa untuk dapat menyebutkan sebanyak-
banyaknya suatu benda yang mempunyai sifat-sifat tertentu
(Depdikbud, 1994).
Agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai secara optimal,
guru sebagai pengemban pendidikan mempunyai peranan dan andil
yang sangat besar.
Berbagai model interaksi pembelajaran yang digunakan sangat besar
pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan tersebut. Karena itu, penelitian
ini bertujuan ingin mendeskripsikan (1) model interaksi, (2) bahan
pembelajaran, dan (3) alat bantu pembelajaran yang digunakan guru TK
Kota Malang untuk menciptakan kreativitas berbahasa Indonesia.
Proses penelitian untuk mencapai tujuan penelitian tersebut dilandasi
oleh berbagai teori yang mencakup teori tentang interaksi pembelajaran,
interaksi pembelajaran di TK, analisis interaksi, dan berbagai kebijakan
pembelajaran di TK, khususnya pembelajaran bahasa Indonesia. Untuk
memperjelas landasan-landasan tersebut perlu diuraikan konsep-konsep
teoritis tentang pembelajaran di TK berikut ini.
Interaksi pada dasarnya merupakan salah satu bentuk kegiatan
berkomunikasi. Sebagai kegiatan komunikasi, River (1987) menjelaskan
bahwa interaksi merupakan kegiatan yang melibatkan pengiriman pesan,
penerimaan pesan, dan konteks atau situasi. Interaksi bukan hanya
melibatkan aspek pengekspresian ide semata, melainkan juga melibatkan
aspek pemahaman ide. Dalam memahami ide, pelaku interaksi
mendasarkan diri pada konteks, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik,
serta semua unsur nonverbal yang terkait dengan kegiatan interaksi.
Lebih rinci lagi, Hymes (1974) menjelaskan bahwa interaksi
memiliki konponen-komponen (1) genre atau macam interaksi, misalnya
lawak, percakapan informal, diskusi, dan sebagainya; (2) topik atau fokus
interaksi; (3) tujuan atau fungsi interaksi ; (4) latar interaksi yang
meliputi lokasi, waktu, dan aspek fisik lain; (5) partisipan yang meliputi
unsur usia, seks, kelompok etnis, status sosial, serta hubungan
antarpartisipan; (6) bentuk atau bahasa yang digunakan dalam interaksi;
(7) isi pesan; (8) urutan dalam interaksi; (9) pola atau struktur interaksi;
dan (10) norma interpretasi yang meliputi pengetahuan umum,
praanggapan budaya yang relevan dan acuan khusus.
Seperti dijelaskan di atas bahwa interaksi sebagi kegiatan
komunikasi memiliki beberapa komponen interaksi. Karena itu, muncul
berbagai model interaksi. Dilihat dari medianya, ada dua model interaksi,
yaitu interaksi verbal dan nonverbal yang menggunakan kode-kode
tertentu sebagai medianya. Dilihat dari pelakunya, interaksi dapat
dibedakan menjadi interaksi kelas dan sekolah serta interaksi keluarga
(Sampson, 1976). Dilihat dari arah pelakunya, interaksi dapat dibedakan
menjadi interaksi searah, interaksi dua arah, dan interaksi optimal
(Muslich, Basennang S., dan Nurchasanah; 1987).
Dilihat dari bentuknya, interaksi kelas, khususnya di TK sering
diwujudkan dalam bentuk permainan. Permainan dapat diintegrasikan ke
dalam seluruh area isi kurikulum, misalnya dalam pembelajaran atau
yang lain. Selain permainan, Edmonson (1981) mengemukakan bahwa
interaksi dapat berbentuk rangkaian tindakan yang dapat berupa tanya
jawab, salam-salam, dan perintah respon.
Interaksi pembelajaran di TK memiliki tujuan yang jelas. Interaksi
tersebut bertujuan agar anak mampu berkomunikasi secara lisan. Dengan
demikian, yang menjadi fokus tujuan pembelajaran tersebut adalah
melatih anak untuk bisa berbicara dan mendengarkan. Tujuan tersebut
dapat tercapai dengan memanfaatkan bahan pembelajaran dan alat bantu
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Bahan pembelajaran yang
digunakan di TK terlihat pada kemampuan-kemampuan berbahasa yang
sudah tertera dalam kurikulum (Depdikbud, 1994). Sedangkan alat bantu
pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dapat berupa alat bantu visual
maupun alat bantu kreatif. Alat bantu visual dapat berupa apa saja asal
dapat dilihat, diraba, dirasakan, dan digunakan untuk bermain. Sedangkan
alat bantu kreatif adalah alat bantu yang dapat digunakan anak melakukan
kegiatan kreatif, misalnya dengan membubuhkan sesuatu, memberi warna,
dan menciptakan sesuatu (Priyatni, 1997).
Untuk mengetahui model interaksi, bahan pembelajaran, dan alat
bantu pembelajaran yang digunakan guru TK, perlu adanya metode
tertentu, yaitu metode analisis interaksi. Dengan analisis interaksi akan
diperoleh gambaran pola interaksi tertentu. Analisis interaksi tersebut
perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang akan dievaluasi. Dengan
demikian, analisis interaksi ini sangat bergantung pada tujuan yang
diinginkan. Ada tujuan yang menekan pada aktivitas guru dan ada yang
menekan pada aktivitas murid (Muslich, Basennang S, dan Nurchasanah,
1987). Penelitian ini menggunakan analisis interaksi yang menekan pada
aktivitas guru dan murid dengan pertimbangan bahwa kreativitas belajar
berbahasa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh aktivitas guru saja atau
murid saja, tetapi keduanya sangat berperan dalam menciptakan
kreativitas berbahasa Indonesia.
Dengan tujuan penelitian di atas dan landasan teori-teori yang
digunakan, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan deskripsi model
interaksi, bahan pembelajaran, dan alat bantu pembelajaran yang
digunakan guru TK Kota Malang untuk menciptakan kreativitas berbahasa
Indonesia. Hasil penelitian tersebut dapat memperkaya teori yang sudah
ada, khususnya teori tentang interaksi pembelajaran bahasa Indonesia di
TK.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Dikatakan
desain penelitian kualitatif karena memiliki ciri-ciri (1) data penelitian
berupa data deskriptif, (2) data penelitian bersifat alami, (3) lebih mengutamakan
proses daripada hasil, (4) analisis data dilakukan secara
induktif, dan (5) makna merupakan hal yang mendasar (Bogdan dan
Biklen, 1982)
Berdasarkan rancangan tersebut, data penelitian yang diperoleh
sebelum dideskripsikan secara kualitatif dihitung persentasenya. Hasil
persentase dipakai sebagai dasar pengkualifikasikan data. Data penelitian
kualitatif yang bersifat deskriptif memiliki latar yang bersifat alami karena
data tersebut diperoleh dalam interaksi yang wajar, bukan manipulasi.
Selain itu, penelitian ini menitikberatkan pada proses interaksi guru siswa,
bukan semata-mata pada hasil interaksi dan analisisnya dilakukan secara
induktif, dimulai dari identifikasi setiap proses interaksi sampai pada
penyimpulan pola model interaksi yang digunakan. Hal lain yang juga
menjadi ciri penelitian ini adalah mementingkan makna daripada proses
interaksi.
Sumber data penelitian ini adalah 25 TK di Kota Malang yang
diambil secara acak dari jumlah TK (223 TK) yang ada di Kota Malang.
Data penelitian tersebut dianalisis dengan prosedur (1) pengecekan
keabsahan data, (2) pengidentifikasian dan pengklasifikasian data, (3)
analisis data dengan tahapan : menghitung frekuensi dan presentase,
memasukkan hasil perhitungan frekuensi dan persentase ke dalam tabel,
dan menentukan hasil dan bahasannya. Hasil penelitian ditentukan
dengan cara mendeskripsikan model interaksi, bahan pembelajaran, dan
alat bantu pembelajaran yang digunakan berdasarkan hasil pentabelan
data. Hasil yang sudah ditentukan dibahas (1) kesesuaiannya dengan teori,
(2) kecenderungan pemakaiannya, dan (3) dapat tidaknya menciptakan
kreativitas berbahasa Indonesia.
HASIL PENELITIAN DAN BAHASANNYA
Berdasarkan tujuan penelitian, hasil penelitian ini dapat
dideskripsikan atas tiga bagian berikut ini.
Model Interaksi Untuk Menciptakan Kreativitas Berbahasa Indonesia
Model interaksi pembelajaran untuk menciptakan kreativitas
berbahasa Indonesia terklasifikasi atas enam kategori sesuai dengan
rumusan tujuan pembelajaran yang ada dalam kurikulum TK. Modelmodel
yang dimaksud dapat diuraikan berikut ini.
Pertama, model interaksi yang paling banyak digunakan untuk me
latih penguasaan perbendaharaan kata adalah dengan cara guru bersama
siswa bernyanyi, kemudian guru menjelaskan isi nyanyian dan kata-kata
yang digunakan dalam nyanyian tersebut (80%). Berikutnya, model interaksi
yang digunakan adalah siswa menirukan guru menyebutkan nama
objek yang ditunjuknya (60%); siswa menyebutkan nama objek yang ditunjuk
guru (60%); siswa menirukan syair yang diucapkan guru dengan
kata-kata yang tepat ucapannya (60,4%); siswa bercerita dengan kata-kata
yang diingat dan didengarkan dari cerita guru (50,2%); siswa diajak berwisata
untuk mengenali nama objek tertentu dengan cara menyebutkan
nama atau menirukan nama objek yang ditunjuk guru (40%); siswa disuruh
menceritakan pengalaman dan kegemaran mereka di depan kelas dengan
bahasa sendiri (20%); siswa disuruh menyusun kartu abjad menjadi
kata seperti yang disebutkan guru (20%); siswa disuruh bermain peran
dengan kata-kata sederhana setelah mereka diberi contoh (16%); siswa
disuruh menunjukkan kartu kata sesuai dengan nama objek yang disebutkan
guru (12%); siswa diajak bermain kuis dengan cara menyuruh anak
memberikan contoh kata-kata atau nama-nama objek dalam kelompok tertentu
(8%); dan model interaksi yang paling sedikit persentasenya adalah
siswa disuruh menyusun kartu suku kata menjadi kata seperti yang disebutkan
guru (4%).
Kedua, model interaksi yang paling banyak digunakan oleh guru TK
dalam melatih pendengaran siswa adalah siswa disuruh menjawab pertanyaan
isi cerita yang didengarkannya dari guru, tape recorder, radio,
atau TV (70,6%) dan guru membisikkan sesuatu dengan kata atau kalimat
kepada siswa tertentu dan siswa tersebut disuruh membisikkannya kepada
siswa lain (bisik berangkai) (70,6%). Selain itu, model interaksi yang
digunakan adalah siswa disuruh mengingat dan menceritakan kembali
cerita yang didengarkannya dari guru (60%); guru menyuruh siswa melakukan
tindakan tertentu (60%); siswa menirukan kata-kata atau kalimat
yang didengarkannya dari guru atau siswa lain (40,8%); siswa disuruh
menirukan bunyi tertentu dan disuruh menebak jenis suara apa yang
didengarkannya (8%); dan model interaksi yang persentase pemakaiannya
paling kecil adalah guru menceritakan sesuatu kepada salah
satu siswa dan siswa tersebut disuruh menceritakannya kepada siswa lain
(cerita berangkai) (4%); guru menceritakan isi gambar dan siswa mengamati
isi gambar, kemudian menceritakan isi gambar tersebut seperti yang
telah didengarkannya dari guru (4%); dan siswa disuruh menirukan urutan
kata yang sesuai dengan apa yang didengarkannya dari guru (4%).
Ketiga, model interaksi yang paling banyak digunakan guru TK untuk
melatih siswa agar dapat menjawab dan mengajukan pertanyaan adalah
guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan
isi ceritera dari guru (80%). Selain itu, model interaksi yang digunakan
adalah guru menyuruh siswa menjawab pertanyaan tentang identitas,
pengalaman, kegemaran, dsb (70,2%); siswa diberi kesempatan mengajukan
pertanyaan tentang sesuatu hal dan guru menjawabnya (40,8%); guru
mengajukan pertanyaan tentang nama alat peraga yang ditunjuk (tiruan/
asli) dan siswa disuruh menjawab pertanyaan tersebut (12%); guru
menyuruh siswa mewarnai gambar, kemudian guru menanyakan jenis
warna setiap bagian gambar dan siswa menjawabnya (8%); dan model interaksi
yang persentasenya paling kecil adalah guru menyuruh siswa untuk
mendramatisasikan cerita yang banyak berisi tanya jawab (4%).
Keempat, model interaksi yang paling banyak digunakan oleh guru
TK untuk melatih siswa agar dapat bercerita secara lancar dan kreatif
adalah siswa disuruh mengamati gambar berseri, kemudian mereka disuruh
menceritakan isi gambar tersebut (60,4%) dan siswa disuruh bercerita
tentang kesenangannya, keluarganya, cita-cita nya, dsb. setelah mereka
mendengarkan contoh dari guru (60,4%). Selain itu, model interaksi yang
digunakan adalah guru bercerita dengan alat bantu nyata atau tiruan, misalnya
dengan boneka dan siswa disuruh mendengarkan (50,2%); siswa
disuruh mendramatisasikan peran-peran tertentu dari cerita yang telah
diceritakan atau dibacakan guru (50,8%); guru membacakan cerita dan
siswa disuruh mendengarkan, menyikapi, dan menjawab pertanyaan isi
cerita (40,8); guru memberikan contoh dramatisasi cerita tertentu dan
siswa menirukannya (40,4%); guru bercerita tanpa alat bantu dan siswa
disuruh mendengarkannya (30,6%); siswa disuruh menggambar bebas,
kemudian siswa disuruh menceritakan isi gambar yang mereka buat (8%);
dan model interaksi yang persentase pemakaiannya paling kecil adalah
guru bercerita kepada salah satu siswa dan siswa tersebut disuruh menceritakannya
kepada siswa lain (cerita-berangkai) (4%).
Kelima, model interaksi yang paling banyak digunakan oleh guru
TK untuk melatih siswa agar dapat memberikan informasi kepada orang
lain adalah siswa menirukan contoh dari guru tentang cara memberikan
informasi kepada orang lain (60,8%). Selain itu, model interaksi yang
digunakan adalah siswa disuruh mengamati objek tertentu, misalnya ciriciri
binatang tertentu, jenis kendaraan, dsb., kemudian siswa tersebut disuruh
menginformasikan kepada teman lain di depan kelas (60,4%); siswa
ditugasi untuk mencari informasi temannya yang sakit, tidak masuk sekolah
dsb.,kemudian siswa tersebut disuruh memberikan informasi itu
kepada teman lain di depan kelas (60%); siswa disuruh memberikan informasi
kepada teman lain tentang pengalamannya, kesukaannya, dsb, secara
bergilir (40,8%); dan model interaksi yang paling kecil persentase
pemakaiannya adalah guru menugasi siswa menyampaikan pesan kepada
orangtua secara lisan dan hasilnya akan dicek guru di depan kelas (8%).
Keenam, model interaksi yang paling banyak digunakan oleh guru
TK untuk melatih siswa agar dapat menyebutkan benda sebanyakbanyaknya
beserta sifatnya adalah siswa menirukan guru menyebutkan
nama benda beserta sifatnya (80,4%). Selain itu, model interaksi yang
digunakan adalah guru membangkitkan ingatan siswa untuk menyebutkan
benda tertentu berdasarkan klasifikasinya dan menyebutkan sifatnya
(70,2%); siswa menyebutkan nama benda yang ditunjuk guru beserta sifatnya
(60,4%); siswa menunjukkan benda tertentu dalam kotak berdasarkan
sifat-sifat tertentu yang telah ditunjukkan guru (60,4%); dan
model interaksi yang paling kecil persentase pemakaiannya adalah guru
menugasi siswa untuk membawa benda tertentu dan menyebutkan nama
beserta sifatnya (30,2%)
Bahan Pembelajaran untuk Menciptakan Kreativitas Berbahasa Indonesia
Wujud dan jenis bahan pembelajaran yang digunakan di TK juga
terklasifikasi atas enam kategori sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam
kurikulum TK. Wujud dan jenis bahan yang dimaksud dapat dirangkum
berikut ini.
Pertama, untuk melatih siswa menguasai perbendaharaan kata bahasa
Indonesia, bahan pembelajaran yang digunakan adalah (1) namanama
objek di lingkungan siswa yang sesuai dengan kurikulum TK, (2)
nama-nama objek di lingkungan siswa yang dianggap penting bagi siswa
walaupun tidak dianjurkan atau tidak sesuai dengan kurikulum TK, (3)
lagu, (4) cerita, dan (5) syair. Dari beberapa bahan tersebut, yang persentase
pemakaiannya paling besar adalah nama-nama objek di lingkungan
siswa yang sesuai dengan kurikulum ditambah nama-nama objek yang dianggap
penting walaupun tidak sesuai dengan kurikulum TK. Sedangkan
yang persentasenya kecil adalah cerita.
Kedua, untuk melatih pendengaran siswa, bahan pembelajaran yang
digunakan adalah (1) kata-kata di lingkungan siswa, (2) kalimat, (3)
cerita, (4) syair, (5) lagu, dan (6) percakapan. Bahan pembelajaran yang
persentase pemakaiannya paling besar adalah syair dan yang paling kecil
persentase pemakaiannya adalah percakapan.
Ketiga, untuk melatih siswa agar dapat menjawab dan mengajukan
pertanyaan, bahan pembelajaran yang digunakan guru adalah (1) cerita
disertai beberapa petanyaan, (2) kata-kata sebagai objek pertanyaan, dan
(3) berbagai jenis kalimat tanya. Cerita yang disertai pertanyaan merupakan
bahan ajar yang persentase pemakaiannya paling tinggi, namun
banyak guru-guru yang kurang memperhatikan jenis pertanyaan yang
digunakan.
Keempat, untuk melatih siswa agar dapat bercerita secara lancar dan
kreatif, bahan pembelajaran yang digunakan adalah (1) cerita nyata, (2)
cerita fiksi, dan (3) pengalaman, kesenangan, cita-cita, dan sebagainya.
Cerita nyata, pengalaman, kesenangan, dan cita-cita siswa merupakan bahan
pembelajaran yang persentase pemakaiannya lebih tinggi daripada
cerita fiksi.
Kelima, untuk melatih siswa agar dapat memberikan informasi
kepada orang lain, bahan pembelajaran yang dimanfaatkan guru adalah
(1) informasi dalam bentuk kaliman, (2) informasi dalam bentuk wacana
utuh, (3) informasi nyata, dan (4) informasi tidak nyata. Informasi dalam
bentuk kalimat yang bersifat nyata persentase pemakaiannya lebih besar
dari pada dalam bentuk wacana dan yang bersifat tidak nyata.
Keenam, untuk melatih siswa agar dapat menyebutkan sebanyakbanyaknya
benda yang mempunyai sifat-sifat tertentu, bahan pembelajaran
yang dimanfaatkan adalah (1) nama-nama benda beserta sifatsifatnya
yang sesuai dengan kurikulum TK, (2) nama-nama benda berserta
sifat-sifatnya yang sesuai dengan kurikulum TK ditambah nama-nama
benda yang dianggap penting bagi siswa walaupun tidak ada dalam kurikulum.
Jenis bahan pembelajaran yang kedua persentase pemakaiannya
lebih besar daripada jenis yang pertama.
Alat Bantu Pembelajaran untuk Menciptakan Kreativitas Berbahasa Indonesia.
Variasi alat bantu pembelajaran yang digunakan guru TK terklasifikasi
atas enam kategori seperti tersebut di atas. Variasi alat bantu tersebut
disimpulkan berikut ini.
Pertama, alat bantu yang digunakan untuk melatih siswa agar dapat
menguasai perbendaharaan kata bahasa Indonesia cukup bervariasi,
seperti (1) objek tiruan: gambar, boneka, dan sebagainya, (2) objek nyata,
(3) buku cerita dan majalah, (4) kartu abjad, (5) kartu suku kata, (6) kartu
kata, (7) lagu, dan (8) syair. Dari beberapa alat bantu tersebut di atas, yang
paling banyak persentase pemakaiannya adalah alat bantu tiruan seperti
gambar, boneka, dsb; dan yang paling kecil persentase pemakaiannya
adalah kartu suku kata.
Kedua, untuk melatih pendengaran siswa, alat bantu pembelajaran
yang digunakan adalah (1) tape recorder, (2) objek tiruan: gambar,
boneka, dsb, (3) buku catatan tentang lagu, syair, dan cerita, (4) majalah
yang berisi lagu, syair dan cerita, serta (5) radio dan TV. Dari beberapa
alat bantu tersebut di atas, yang paling besar persentase pemakaiannya
adalah tape recorder dan yang paling kecil persentase pemakaiannya adalah
TV dan radio.
Ketiga, untuk melatih siswa agar menjawab dan mengajukan pertanyaan,
alat bantu pembelajaran yang digunakan adalah (1) objek tiruan:
boneka, gambar berseri, gambar dinding, (2) objek nyata di lingkungan
siswa, dan (3) buku dan majalah yang berisi objek tertentu, cerita, lagu,
dan syair. Dari beberapa alat bantu tersebut, yang paling besar persentase
pemakaiannya adalah objek nyata dan yang paling kecil persentase pemakaiannya
adalah buku dan majalah.
Keempat, untuk melatih siswa agar dapat bercerita secara lancar dan
kreatif, alat bantu pembelajaran yang digunakan adalah (1) objek nyata,
(2) objek tiruan: gambar, boneka dsb, dan (3) buku cerita, majalah, dan
catatan. Objek tiruan persentase pemakaiannya lebih besar daripada objek
nyata serta buku, majalah, dan catatan.
Kelima, untuk melatih siswa agar dapat memberikan informasi
kepada orang lain, alat bantu pembelajaran yang digunakan adalah (1) objek
nyata di lingkungan siswa, (2) objek tiruan: gambar, boneka, dsb, dan
(3) surat, buku tugas, dan buku penghubung. Dari beberapa alat bantu
tersebut, yang persentase pemakaiannya paling besar adalah objek nyata
dan yang paling kecil persentasenya adalah surat, buku tugas, dan buku
penghubung.
Keenam, untuk melatih siswa agar dapat menyebutkan sebanyakbanyaknya
benda yang mempunyai sifat-sifat tertentu, alat bantu pembelajaran
yang digunakan adalah (1) benda-benda nyata di lingkungan siswa
dan (2) benda-benda tiruan seperti gambar. Benda-benda nyata persentase
pemakaiannya lebih besar daripada benda-benda tiruan.
Berdasarkan temuan di atas ditegaskan bahwa setiap model pembelajaran,
bahan ajar, dan alat bantu pembelajaran ditentukan berdasarkan tujuan
pembelajaran. Adakalanya tujuan pembelajaran berbeda menggunakan
model interaksi, bahan ajar, dan alat bantu pembelajaran yang sama.
Dalam kenyataannya, setiap model interaksi pembelajaran dapat direalisasikan
dalam berbagai bentuk teknik pembelajaran. Ini semua bergantung
pada kreativitas guru.
Model pembelajaran yang digunakan guru TK cukup bervariasi dan
cukup dapat menciptakan kreativitas berbahasa Indonesia. Ini terbukti dari
partisipasi aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Namun demikian,
kadar keaktifan siswa dalam setiap model pembelajaran tentu saja berbeda,
misalnya kadar keaktifan siswa dalam model interaktif menirukan
berbeda dengan model yang lain, seperti bercerita, dramatisasi, dan sebagainya.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini di atas dapat disimpulkan sebagai
berikut. Pertama, untuk melatih penguasaan perbendaharaan kata, model
interaksi yang digunakan guru TK adalah menirukan, menyebutkan nama,
bercerita, bersyair, berwisata, bernyanyi, menyusun, bermain peran, bermain
kuis. Bahan pelajaran untuk mencapai tujuan tersebut adalah namanama
objek di lingkungan siswa sesuai dengan kurikulum TK, nama-nama
objek di lingkungan siswa yang dianggap penting bagi siswa walaupun
tidak ada dalam kurikulum TK, lagu, cerita, dan syair, sedangkan alat
bantu yang digunakan adalah objek tiruan yang berupa gambar, boneka,
dsb; objek nyata, buku cerita dan majalah, kartu abjad, kartu suku kata,
kartu kata, lagu dan syair; Kedua, untuk melatih pendengaran siswa,
model interaksi yang digunakan adalah menirukan, bercerita, menjawab
pertanyaan, perintah-tindakan, bisik-berangkai, dan cerita berangkai; bahan
pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut adalah kata-kata di
lingkungan siswa, kalimat, cerita, syair, lagu, dan percakapan; sedangkan
alat bantu yang digunakan adalah tape recorder, objek tiruan yang berupa
gambar, boneka, dsb; buku catatan tentang lagu, syair dan cerita, serta radio
dan TV; Ketiga, untuk melatih siswa agar dapat menjawab dan mengajukan
pertanyaan, model interaksi yang digunakan guru TK adalah
menjawab dan mengajukan pertanyaan serta dramatisasi; bahan pembelajaran
untuk mencapai tujuan tersebut adalah cerita disertai beberata pertanyaan,
kata-kata sebagai objek pertanyaan, dan berbagai jenis kalimat
tanya, sedangkan alat bantu yang digunakan adalah objek tiruan seperti
boneka, gambar berseri, gambar dinding, dsb; objek nyata di lingkungan
siswa, serta buku dan majalah yang berisi tentang objek tertentu, cerita,
lagu, dan syair; Keempat, untuk melatih siswa agar dapat bercerita secara
lancar dan kreatif, model interaksi yang digunakan guru TK adalah bercerita
dan dramatisasi; bahan pembelajaran untuk mencapaian tujuan tersebut
adalah cerita nyata, cerita fiksi, pengalaman, kesenangan, cita-cita
dsb; sedangakan alat bantu yang digunakan adalah objek nyata, objek tiruan
seperti gambar, boneka dsb; serta buku, majalah, dan catatan; Kelima,
untuk melatih siswa agar dapat memberikan informasi kepada orang
lain, model interaksi yang digunakan guru TK adalah menirukan dan penugasan;
bahan pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut adalah informasi
dalam bentuk kalimat, informasi dalam bentuk wacana utuh, informasi
nyata, dan informasi tidak nyata; sedangkan alat bantu yang digunakan
adalah objek nyata di lingkungan siswa, objek tiruan seperti gambar,
boneka, dsb; surat, buku tugas, dan buku penghubung; Dan terakhir,
untuk melatih siswa agar dapat menyebutkan sebanyak-banyaknya suatu
benda yang mempunyai sifat-sifat tertentu, model interaksi yang digunakan
guru TK adalah menirukan, menyebutkan nama, penugasan, dan
menunjukkan objek; bahan pembelajaran yang digunakan untuk mencapai
tujuan tersebut adalah nama-nama benda serta sifatnya yang dianggap
penting bagi siswa walaupun tidak ada dalam kurikulum. Sedangkan alat
bantu yang digunakan adalah benda-benda nyata di lingkungan siswa serta
benda-benda tiruan seperti gambar.
Simpulan di atas membuktikan bahwa tujuan pembelajaran menentukan
model interaksi, bahan pembelajaran, dan alat bantu yang diguna
kan. Adakalanya tujuannya berbeda menggunakan model interaksi, bahan
pembelajaran, dan alat bantu yang sama. Setiap model interaksi direalisasikan
dalam berbagai teknik pembelajaran. Ini semua bergantung
pada kreativitas guru. Setiap model interaksi, memiliki kadar keaktifan
yang berbeda, baik dari pihak guru maupun siswa. Karena itu, guru perlu
mempertimbangkannya dalam menentukan model interaksi yang digunakan.
SARAN
1. Bagi guru TK disarankan untuk dapat mempertimbangkan dan memilih
model interaksi, bahan, dan alat bantu pembelajaran yang memungkinkan
dapat menciptakan kreativitas yang tinggi bagi siswa
karena setiap model yang digunakan kadar kreativitasnya berbeda,
misalnya model interaksi menirukan dan mencontoh, kadar kreativitasnya
lebih rendah daripada model bercerita dan dramatisasi.
2. Bagi lembaga yang terkait, misalnya Depdikbud dan Depag, diharapkan
dapat bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang untuk melakukan
kegiatan peningkatan profesi guru TK dalam kaitannya dengan
proses pembelajaran di TK dengan cara mengadakan penataran
atau lokakarya agar lembaga-lembaga tersebut dapat saling bertukar
pikiran dan saling membantu dalam mengatasi permasalahanpermasalahan
di TK.
3. Bagi penulis buku dan majalah anak-anak dapat memanfaatkan hasil
penelitian ini sebagai dasar penyusunan strategi pembelajaran dalam
buku dan majalah yang disusunnya.
4. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian sejenis dengan cara :
(1) melakukan penelitian dengan aspek yang sama tetapi populasinya
lebih luas, (2) melakukan penelitian dengan aspek yang sama dalam
wilayah yang lain, (3) melakukan penelitian lanjutan untuk mencari
model interaksi pembelajaran di TK yang dianggap paling efektif dari
beberapa model interaksi yang telah dihasilkan dalam penelitian ini,
dan (4) melakukan penelitian di TK dengan aspek pembelajaran yang
lain.
DAFTAR RUJUKAN
Bogdan, R. C dan S. K, Biklen. 1982 Qualitative Research for Education: An Introduction
to Theory and Methods. London : Allyn and Bacon, Inc.
Depdikbud. 1994. Program Kegiatan Belajar TK. Jakarta : Depdikbud.
Depdikbud. 1995. Sarana Taman Kanak-Kanak. Depdikbud.
Edmoson, W. 1981. Spoken Discourse : A Model Analysis. London : Longman.
Hymes, D. 1974. Foundation in Socioliungstics: An Ethnographioc Approach.
Philadelphia : Univercity of Pennsylvania.
Muslich, Masnur, Basennang S., dan Nurchasanah, 1987, 1987. Dasar
dasar
Interaksi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung, Jemmars.
Priyatni, Endah Tri. 1997. Pengembangan dan Pemasyarakatan Alat Permainan
Sebagai Alat Peraga Interaktif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Malang
: IKIP Malang.
River. W.M. 1987. Interactional Language Teaching. Cambridge : Cambridge
University Oress.
Sampson, Edward G. 1976. Social Psychology and Contemporary Society. New
York: John Willy and Son.
Surakhmad, Winarno, 1984. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar : Dasar dan
Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung : Tarsito.
Sumber: http://sastra.um.ac.id/
Hasil Reformasi Birokrasi Internal (RBI) Kemdiknas
Dokumen-dokumen Hasil Reformasi Birokrasi Internal (RBI) Kementerian Pendidikan Nasional :
- Ringkasan Kegiatan RBI Tahun 2010
- Pedoman Sosialisasi Prosedur Operasi Standar (POS)
- Laporan Kajian Manajemen Konstruksi Alur Kerja untuk e-Layanan
- Laporan Kajian Manajemen Pemantauan Alur Kerja untuk e-Layanan
- Laporan Kajian Manajemen Pengamanan e-Layanan
- Kajian Model Konseptual Sistem e-Pembelajaran
- Kajian Model Konseptual Materi e-Pembelajaran
- Rekomendasi Infrastruktur e-Layanan Ditjen MPDM
- Rekomendasi Infrastruktur e-Layanan Ditjen PMPTK
- Rekomendasi Infrastruktur e-Layanan Ditjen PNFI
- Rekomendasi Infrastruktur e-Layanan Setjen
- Rancangan Buku Panduan Kebijakan Pengelolaan Kinerja Individu Kemdiknas
- Rancangan Buku Panduan Kebijakan Pengelolaan Kinerja Organisasi Kemdiknas
- Buku Saku Budaya Kerja Kemdiknas
- Buku Saku Manajemen Alur Kerja e-Layanan untuk Kemdiknas
- Buku Saku Pengembangan Sistem Pengelolaan SDM Berbasis Kinerja
- Buku Saku Reformasi Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional
- Kajian Analisis Sistem Akreditasi Program Studi
- Kajian Analisis Sistem Akreditasi Sekolah dan Madrasah
- Kajian Analisis Sistem Sertifikasi Guru
- Kajian Analisis Sistem Sertifikasi Dosen
- Kajian Analisis Spesifikasi Kebutuhan Sistem Penyaluran Hibah
- Kajian Rancangan Awal Sistem Penyaluran Hibah
Meningkatkan Prestasi Belajar
Upaya meningkatkan prestasi belajar diperlukan menciptakan suasana yang kondusif dalam belajar, mengembangkan jiwa kompentitif yang sehat dan menumbuhkan rasa percaya diri atas kemampuannya untuk memperkaya banyak membaca.
1. Menciptakan suasana yang kondusif dalam belajar.
Tak kalah pentingnya dan harus Anda ingat dalam menciptakan suasana yang kondusif untuk merangsang dorongan berprestasi belajar adalah perlu diperhitungkan unsur perasaan. Karena unsur perasaan lebih dominan dan melatarbelakangi segala aktivitas seseorang.
Dengan kata lain produktif atau tidaknya aktivitas seseorang sangat tergantung pada unsur perasaan dalam melaksanakan aktivitas tersebut.
Oleh karena itu, Anda harus memperhitungkan dan memperhatikan unsur perasaan untuk mewujudkan harapan-harapan. Tentunya kita semua mengetahui bahwa kegembiraan bersifat menggerakkan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan gembira (senang hati), tentunya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kekecewaan atau unsur tertekan bersifat melembekkan atau melemahkan.
Suatu aktivitas yang dilaksanakan karena ada tekanan atau kekecewaan, tentunya akan menghasilkan sesuatu yang mengecewakan atau ketidakpuasan atau mutu yang rendah. Oleh karena itu, suasana gembira harus senantiasa terpelihara dapat belajar dengan baik dan memunculkan gagasan-gagasan yang brilian. Begitu juga terangsang mengaktualisasikan dirinya sepenuhnya dalam mencapai harapan-harapan kita.
2. Mengembangkan jiwa kompetitif
Untuk memacu dorongan berprestasi yang baik perlu dikembangkan suasana kompetetif yang sehat dan konstruktif diarahkan menjadi dirinya sendiri. Disadarkan dirinya punya potensi yang siap untuk dikembangkan. Kemauan atau hasrat harus dibangkitkan, agar dirinya senantiasa merasa tertantang untuk ingin tahu segala-galanya dan ingin selalu menonjol lebih dari yang lainnya.
Tentunya Anda menyadari orang yang tetap bertahan hidup, memiliki tempat dan memegang peranan penting di tengah-tengah masyarakat, hanyalah orang-orang yang memiliki kecakapan yang brilian dan tahu mempergunakan, menempatkan kelebihannya tersebut. Bagi mereka yang tidak dapat mendayagunakan kemampuan secara optimal akan tersisih atau terpinggirkan dan hanya menjadi kelompok marginal. Hidup ini merupakan kompetisi, hanya orang-orang yang mampu memanfaatkan peluang secara optimal yang berhasil mendapatkan tempat utama.
Hal yang perlu Anda ingat, bahwa setiap orang memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk berkembang mengaktualisasikan diri dan yang berhasil adalah yang benar-benar menyadari potensi yang dimilikinya dan mampu mengimplementasikan kemampuannya tersebut pada proses kemajuan dirinya.
Anda jangan terpaku hanya dengan slogan IQ harus jenius baru bisa jadi orang. IQ itu hanya satu persen saja yang mendorong seseorang berhasil dengan baik dan yang 99 persen adalah kemauan dan kerja keras untuk mewujudkan impian dan mengetahui cara yang efektif untuk merealisasikan impian tersebut. Banyak yang memiliki IQ tinggi, namun pada akhirnya mubazir, karena tidak mendapatkan pengarahan yang tepat untuk mendayagunakan kelebihan kemampuannya tersebut. Banyak orang yang berhasil malah dengan IQ pas-pasan, namun mendapat bimbingan dan pengarahan kemampuannya dengan tepat.
Untuk me.nperoleh keunggulan dalam suasana kompetetif adalah tugas Anda memberi bekal pola berpikir, pola berbuat yang terencana, sistematis dan cara-cara yang efektif. Anda diharapkan mampu mengarahkan perujukan dalam pengembangan bakat-bakat khusus.
3. Mengembangkan rasa percaya diri
Sumber energi yang membangkitkan dorongan berprestasi dari dalam diri adalah rasa percaya diri. Oleh karena itu, sangat perlu ditumbuhkan atau dibangkitkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya untuk dapat mempelajari berbuat atau melakukan sesuatu. Keyakinan dalam hati akan membuat diri berusaha keras dan mencari cara untuk mewujudkan keyakinannya itu dengan banyak membaca sehingga wawasan pengetahuannya luas.
1. Menciptakan suasana yang kondusif dalam belajar.
Tak kalah pentingnya dan harus Anda ingat dalam menciptakan suasana yang kondusif untuk merangsang dorongan berprestasi belajar adalah perlu diperhitungkan unsur perasaan. Karena unsur perasaan lebih dominan dan melatarbelakangi segala aktivitas seseorang.
Dengan kata lain produktif atau tidaknya aktivitas seseorang sangat tergantung pada unsur perasaan dalam melaksanakan aktivitas tersebut.
Oleh karena itu, Anda harus memperhitungkan dan memperhatikan unsur perasaan untuk mewujudkan harapan-harapan. Tentunya kita semua mengetahui bahwa kegembiraan bersifat menggerakkan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan gembira (senang hati), tentunya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kekecewaan atau unsur tertekan bersifat melembekkan atau melemahkan.
Suatu aktivitas yang dilaksanakan karena ada tekanan atau kekecewaan, tentunya akan menghasilkan sesuatu yang mengecewakan atau ketidakpuasan atau mutu yang rendah. Oleh karena itu, suasana gembira harus senantiasa terpelihara dapat belajar dengan baik dan memunculkan gagasan-gagasan yang brilian. Begitu juga terangsang mengaktualisasikan dirinya sepenuhnya dalam mencapai harapan-harapan kita.
2. Mengembangkan jiwa kompetitif
Untuk memacu dorongan berprestasi yang baik perlu dikembangkan suasana kompetetif yang sehat dan konstruktif diarahkan menjadi dirinya sendiri. Disadarkan dirinya punya potensi yang siap untuk dikembangkan. Kemauan atau hasrat harus dibangkitkan, agar dirinya senantiasa merasa tertantang untuk ingin tahu segala-galanya dan ingin selalu menonjol lebih dari yang lainnya.
Tentunya Anda menyadari orang yang tetap bertahan hidup, memiliki tempat dan memegang peranan penting di tengah-tengah masyarakat, hanyalah orang-orang yang memiliki kecakapan yang brilian dan tahu mempergunakan, menempatkan kelebihannya tersebut. Bagi mereka yang tidak dapat mendayagunakan kemampuan secara optimal akan tersisih atau terpinggirkan dan hanya menjadi kelompok marginal. Hidup ini merupakan kompetisi, hanya orang-orang yang mampu memanfaatkan peluang secara optimal yang berhasil mendapatkan tempat utama.
Hal yang perlu Anda ingat, bahwa setiap orang memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk berkembang mengaktualisasikan diri dan yang berhasil adalah yang benar-benar menyadari potensi yang dimilikinya dan mampu mengimplementasikan kemampuannya tersebut pada proses kemajuan dirinya.
Anda jangan terpaku hanya dengan slogan IQ harus jenius baru bisa jadi orang. IQ itu hanya satu persen saja yang mendorong seseorang berhasil dengan baik dan yang 99 persen adalah kemauan dan kerja keras untuk mewujudkan impian dan mengetahui cara yang efektif untuk merealisasikan impian tersebut. Banyak yang memiliki IQ tinggi, namun pada akhirnya mubazir, karena tidak mendapatkan pengarahan yang tepat untuk mendayagunakan kelebihan kemampuannya tersebut. Banyak orang yang berhasil malah dengan IQ pas-pasan, namun mendapat bimbingan dan pengarahan kemampuannya dengan tepat.
Untuk me.nperoleh keunggulan dalam suasana kompetetif adalah tugas Anda memberi bekal pola berpikir, pola berbuat yang terencana, sistematis dan cara-cara yang efektif. Anda diharapkan mampu mengarahkan perujukan dalam pengembangan bakat-bakat khusus.
3. Mengembangkan rasa percaya diri
Sumber energi yang membangkitkan dorongan berprestasi dari dalam diri adalah rasa percaya diri. Oleh karena itu, sangat perlu ditumbuhkan atau dibangkitkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya untuk dapat mempelajari berbuat atau melakukan sesuatu. Keyakinan dalam hati akan membuat diri berusaha keras dan mencari cara untuk mewujudkan keyakinannya itu dengan banyak membaca sehingga wawasan pengetahuannya luas.
Faktor yang mempegaruhi Belajar Anak
Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Langsung saja Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar yaitu:
A. Faktor-faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari individu anak itu sendiri yang meliputi :
1. Faktor Jasmaniah (fisiologis)
Yang termasuk faktor ini antara lain: penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan sebagainya.
2. Faktor Psikologis
Yang termasuk faktor psikologis antara lain:
- Intelektul (taraf intelegensi, kemampuan belajar, dan cara belajar).
- Non Intelektual (motifasi belajar, sikap, perasaan, minat, kondisi psikis, dan kondisi akibat keadaan sosiokultur).
- Faktor kondisi fisik.
B. Faktor-faktor Eksternal
Yang termasuk faktor eksternal antara lain:
1. Faktor pengaturan belajar disekolah ( kurikulum, disiplin sekolah, guru, fasilitas belajar, dan pengelompokan siswa ).
2. Faktor sosial disekolah ( sistem sosial, status sosial siswa, dan interaksi guru dan siswa ).
3. Faktor situasional ( keadaan politi ekonomi, keadaan waktu dan tempat atau iklim). (W. S. Winkel, 1983: 43).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu dan faktor yang berasal dari luar diri individu. Kedua faktor ini akan saling mendukung dan saling berinteraksi sehingga membuahkan sebuah hasil belajar.
A. Faktor-faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari individu anak itu sendiri yang meliputi :
1. Faktor Jasmaniah (fisiologis)
Yang termasuk faktor ini antara lain: penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan sebagainya.
2. Faktor Psikologis
Yang termasuk faktor psikologis antara lain:
- Intelektul (taraf intelegensi, kemampuan belajar, dan cara belajar).
- Non Intelektual (motifasi belajar, sikap, perasaan, minat, kondisi psikis, dan kondisi akibat keadaan sosiokultur).
- Faktor kondisi fisik.
B. Faktor-faktor Eksternal
Yang termasuk faktor eksternal antara lain:
1. Faktor pengaturan belajar disekolah ( kurikulum, disiplin sekolah, guru, fasilitas belajar, dan pengelompokan siswa ).
2. Faktor sosial disekolah ( sistem sosial, status sosial siswa, dan interaksi guru dan siswa ).
3. Faktor situasional ( keadaan politi ekonomi, keadaan waktu dan tempat atau iklim). (W. S. Winkel, 1983: 43).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu dan faktor yang berasal dari luar diri individu. Kedua faktor ini akan saling mendukung dan saling berinteraksi sehingga membuahkan sebuah hasil belajar.
Teori Belajar Konstruktivisme
Oleh : Dr. Hamzah, M.Ed.
A.Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).
Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak.
Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan; (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
B. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
*) Dr. Hamzah, M.Ed. adalah dosen pada FMIPA Universitas Negeri Makassar
Sumber: http://www.vilila.com
A.Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).
Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak.
Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan; (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.
B. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
*) Dr. Hamzah, M.Ed. adalah dosen pada FMIPA Universitas Negeri Makassar
Sumber: http://www.vilila.com
Pendidikan Berkarakter dalam Dunia Pendidikan
Oleh : SUWARDI LUBIS *)
image Dunia pendidikan kita masa kini menghadapi persoalan kualitas pendidikan. Contoh yang paling sering dijadikann wacana adalah perbandingan kondisi pendidikan Indonesia dan Malaysia. Kalau dulu orang Malaysia banyak belajar ke negeri kita, sekarang justru sebaliknya orang Indonesia yang menimba ilmu ke Malaysia.
Berbagai pendapat menyebutkan bahwa pendidikan di Indonesia tidak berlangsung secara efektif dan efisien. Salah satu penyebabnya tidak efektifnya pendidikan, disebutkan karena tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan penyebab masalah tidak efisiennya pendidikan disebutkan sebagai mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan serta mutu pegajar.
Masalah yang terjadi ini bukan tanpa upaya mencari solusinya. Berbagai kebijakan pemerintah telah dijalankan untuk mencapai mutu pendidikan yang lebih baik. Misalnya dengan menerapkan kompetensi pendidikan tertentu atau model pendidikan karakter. Kemudian ada kebijakan standarisasi pendidikan. Kebijakan ini ditandai dengan dibentuknya badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP)
Di sisi lain, persoalan kemiskinan juga berdampak pada masalah pendidikan. Di samping tentunya persoalan-persoalan lain seperti kualitas pengajaran, sistim pendidikan dan lainnya, kesenjangan ekonomi akan melahirkan apa yang disebut social deprivation atau seperti disebutkan David Myers (1998) sebagai; perception that one is worse off relative to those with whom one compares oneself. Seseorang yang mengalami suatu kondisi buruk dan membandingkan dengan kondisi orang lain yang lebih baik, maka kondisi yang terjadi adalah lebih buruk lagi.
Inilah yang terjadi ketika anak-anak dari keluarga miskin menyaksikan anak-anak lain seusia yang berasal dari keluarga kaya yang hidup enak dengan menikmati berbagai kemewahan. Kondisi inilah yang disebut dengan depripasi sosial itu.
Deprivasi sosial banyak dijumpai di lingkungan masyarakat yang pola kehidupannya sangat individualistis seperti di daerah perkotaan. Bila relasi sosial antarwarga masyarakat cenderung impersonal dan bila setiap anggota masyarakat lebih menonjolkan sikap egosentrisme, perasaan empati atas kesulitan hidup yang dialami anggota masyarakat yang lain menjadi tumpul, bahkan hilang sama sekali. Dalam pola kehidupan demikian, sulit terbangun rasa kebersamaan dan solidaritas.
Kondisi seperti ini bisa mempengaruhi mental dan psikologis seorang peserta didik. Di bangku sekolah yang seharusnya mereka dapat mengembangkan tiga kemampuan dasar secara optimal: kognitif (daya nalar, intelektual), afektif (sikap, mentalitas, perasaan), dan psikomotorik (kemahiran teknikal), bisa terkendala hambatan depripasi sosial itu.
Kemampuan dasar itu mestinya bisa berlangsung optimal karena sangat penting bagi proses perkembangan jenjang pendidikan anak. Di usia sekolah setiap anak seyogianya dapat mengikuti proses pendidikan guna mengembangkan segenap potensi diri sehingga tumbuh menjadi pribadi matang dan dewasa serta punya bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Dengan bekal pendidikan yang baik, setiap anak bisa hidup sebagai insan yang bermartabat mulia. Namun hambatan yang terjadi akan menyebabkan seorang anak tidak akan menjadi seperti yang diharapkan.
Indikator keberhasilan
Salah satu upaya mengentaskan masalah pendidikan di Indonesia seperti disinggung di atas adalah dengan menerapkan pendidikan karakter. Upaya ini malah telah menjadi trend dan isu penting dalam sistim pendidikan kita. Upaya ini merupakan amanat yang telah digariskan dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan karakter itu sendiri adalah suatu sistim penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan.
David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004) memberikan definisi pendidikan karakter: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Kemudian dijelaskan dalam buku panduan Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama, bahwa sejumlah indikator keberhasilan program pendidikan karakter oleh peserta didik, di antaranya mencakup: 1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja; 2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri; 3. Menunjukkan sikap percaya diri; 4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas; 5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional; 6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif; 7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif; 8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya; 9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari; 10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial; 11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab; 12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia; 13. Menghargai karya seni dan budaya nasional; 14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya; 15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik; 16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun; 17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; 18. Menghargai adanya perbedaan pendapat; 19. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana; 20. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana; 21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah; 22. Memiliki jiwa kewirausahaan.
Melihat kompleksnya indikator keberhasilan pendidikan karakter ini, tentunya bukan hal yang mudah untuk mengimplementasikannya. Tapi tentu saja jika indikator keberhasilan ini benar-benar bisa tercapai maka hal tersebut adalah sesuatu hal yang luar biasa.
Penutup
Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya.
*) Penulis adalah Dosen USU dan STIK-P Medan
Sumber: http://www.vilila.com/2010
image Dunia pendidikan kita masa kini menghadapi persoalan kualitas pendidikan. Contoh yang paling sering dijadikann wacana adalah perbandingan kondisi pendidikan Indonesia dan Malaysia. Kalau dulu orang Malaysia banyak belajar ke negeri kita, sekarang justru sebaliknya orang Indonesia yang menimba ilmu ke Malaysia.
Berbagai pendapat menyebutkan bahwa pendidikan di Indonesia tidak berlangsung secara efektif dan efisien. Salah satu penyebabnya tidak efektifnya pendidikan, disebutkan karena tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan penyebab masalah tidak efisiennya pendidikan disebutkan sebagai mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan serta mutu pegajar.
Masalah yang terjadi ini bukan tanpa upaya mencari solusinya. Berbagai kebijakan pemerintah telah dijalankan untuk mencapai mutu pendidikan yang lebih baik. Misalnya dengan menerapkan kompetensi pendidikan tertentu atau model pendidikan karakter. Kemudian ada kebijakan standarisasi pendidikan. Kebijakan ini ditandai dengan dibentuknya badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP)
Di sisi lain, persoalan kemiskinan juga berdampak pada masalah pendidikan. Di samping tentunya persoalan-persoalan lain seperti kualitas pengajaran, sistim pendidikan dan lainnya, kesenjangan ekonomi akan melahirkan apa yang disebut social deprivation atau seperti disebutkan David Myers (1998) sebagai; perception that one is worse off relative to those with whom one compares oneself. Seseorang yang mengalami suatu kondisi buruk dan membandingkan dengan kondisi orang lain yang lebih baik, maka kondisi yang terjadi adalah lebih buruk lagi.
Inilah yang terjadi ketika anak-anak dari keluarga miskin menyaksikan anak-anak lain seusia yang berasal dari keluarga kaya yang hidup enak dengan menikmati berbagai kemewahan. Kondisi inilah yang disebut dengan depripasi sosial itu.
Deprivasi sosial banyak dijumpai di lingkungan masyarakat yang pola kehidupannya sangat individualistis seperti di daerah perkotaan. Bila relasi sosial antarwarga masyarakat cenderung impersonal dan bila setiap anggota masyarakat lebih menonjolkan sikap egosentrisme, perasaan empati atas kesulitan hidup yang dialami anggota masyarakat yang lain menjadi tumpul, bahkan hilang sama sekali. Dalam pola kehidupan demikian, sulit terbangun rasa kebersamaan dan solidaritas.
Kondisi seperti ini bisa mempengaruhi mental dan psikologis seorang peserta didik. Di bangku sekolah yang seharusnya mereka dapat mengembangkan tiga kemampuan dasar secara optimal: kognitif (daya nalar, intelektual), afektif (sikap, mentalitas, perasaan), dan psikomotorik (kemahiran teknikal), bisa terkendala hambatan depripasi sosial itu.
Kemampuan dasar itu mestinya bisa berlangsung optimal karena sangat penting bagi proses perkembangan jenjang pendidikan anak. Di usia sekolah setiap anak seyogianya dapat mengikuti proses pendidikan guna mengembangkan segenap potensi diri sehingga tumbuh menjadi pribadi matang dan dewasa serta punya bekal pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Dengan bekal pendidikan yang baik, setiap anak bisa hidup sebagai insan yang bermartabat mulia. Namun hambatan yang terjadi akan menyebabkan seorang anak tidak akan menjadi seperti yang diharapkan.
Indikator keberhasilan
Salah satu upaya mengentaskan masalah pendidikan di Indonesia seperti disinggung di atas adalah dengan menerapkan pendidikan karakter. Upaya ini malah telah menjadi trend dan isu penting dalam sistim pendidikan kita. Upaya ini merupakan amanat yang telah digariskan dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan karakter itu sendiri adalah suatu sistim penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan.
David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004) memberikan definisi pendidikan karakter: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Kemudian dijelaskan dalam buku panduan Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama, bahwa sejumlah indikator keberhasilan program pendidikan karakter oleh peserta didik, di antaranya mencakup: 1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja; 2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri; 3. Menunjukkan sikap percaya diri; 4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas; 5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional; 6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif; 7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif; 8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya; 9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari; 10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial; 11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab; 12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia; 13. Menghargai karya seni dan budaya nasional; 14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya; 15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik; 16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun; 17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; 18. Menghargai adanya perbedaan pendapat; 19. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana; 20. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana; 21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah; 22. Memiliki jiwa kewirausahaan.
Melihat kompleksnya indikator keberhasilan pendidikan karakter ini, tentunya bukan hal yang mudah untuk mengimplementasikannya. Tapi tentu saja jika indikator keberhasilan ini benar-benar bisa tercapai maka hal tersebut adalah sesuatu hal yang luar biasa.
Penutup
Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya.
*) Penulis adalah Dosen USU dan STIK-P Medan
Sumber: http://www.vilila.com/2010
Prestasi Belajar
Pengertian prestasi adalah “hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dan sebaginya)” (Depdikbud RI, 1986:700). Selanjutnya, Drs. Syaiful Bahri Djamarah (1994:88), dalam bukunya “Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru”, menyatakan arti prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Jadi dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah bukti keberhasdilan usaha yang dicapai oleh anak dalam belajar yang berupa penambahan pengetahuan, perubahan sikap dan tingkah laku, serta penguasaan keterampilan yang ada di sekolah diwujudkan dalam bentuk prestasi (misalnya rapor).
Faktor yang mempengaruhi belajar anak
Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat
Dalam rangka Seminar Sehari tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Anak dan Kurikulum Berbasis Komputensi di Sekolah Dasar
1. Pengaruh Pendidikan dan Pembelajaran Unggul
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya (Semiawan, C, 1997).Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 - 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Clark, 1986).
Lingkungan pendidikan dan berbagai pusat pelatihan serta tempat kerja kita kini juga dipengaruhi oleh lingkungan global yang merupakan berbagai pengaruh eksternal dalam dinamika berbagai aspek kehidupan di dunia, Lingkungan global yang mengadung pengertian tereksposnya kita oleh kehidupan komunitas global menuntut adaptasi masyarakat kita pada kondisi global dan pada gilirannya menuntut adaptasi individu untuk bisa bertahan di masyarakat di mana ia hidup.
Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi untuk mewujudkan aktualitasasi diri individu secara optimal dalam masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam hal kita, para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik. Interaksi yang terjadi dalam prilaku anak-anak kita. Namun secara reciprocal (timbal balik) perlakuan yang diterjadikan adalah cermin kehidupan masyarakat di mana ia hidup.
Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fullfield). Kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berjalan, dan abad ke-21 serta abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad-abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapun mengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia, dan terutama berdampak terhadap orientasi pendidikan.
2. Perkembangan dan Pengukuran Otak
Sebagaimana tadi dikatakan, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir(Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe inteligensinya.
Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas "Prefrontal cortex" otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal cortex yang terutama tumbuh pada ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi "biofeedback" dan meditasi; berfikir sistem analisis;yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai kemandirian dan keunggulan.
Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut masih menyimpan berbagai kemungkinan lain.
"Celebral Cortex" otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut "corpus callosum". Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan berfikir imaginatif multidimensional yang memungkinkan lebih dari satu jawaban.
3. Kecerdasan (Inteligensi) Emosional
* Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat (Segal, 1997:14). Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan (Segal, 1997:5) bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi (Segal, 1997, Goleman, 1995).
Ternyata bahwa emosi selain mengandung persaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (Menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls untuk bertindak.
Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki an emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart. kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya sendiri, bekerjasama secara sinergis dan harmonis.
* Homo sapiens yang memiliki neocortex(otak depan) yang merupakan sumber rasio, yaitu otak depan, terdiri dari pusat-pusat yang memahami dan mendudukan apa yang diamati oleh alat dria kita. Dalam evolusi tentang pengtahuan kemampuan organisma, ternyata bahwa penanjakan kehidupan manusia dalam peradaban dan kebudayaan adalah kerja neocortex yang ternyata juga menjadi sumber kemampuan seseorang untuk perencanaan dan strategi jangka panjang dalam mempertahankan hidup (Goleman, 1995:11).
Perkembangan ini menjadi otak memiliki nuansa terhadap kehidupan emosional seseorang. Struktur lymbic (sumsum tulang belakang) menghidupkan perasaan tentang kesenangan dan keinginan seksual, yaitu emosi yang mewujudkan sexual passion. Namun keterkaitan sistem lymbic tersebut dengan neocortex menumbuhkan hubungan dasar ibu-anak, yang menjadi landasan untuk unit keluarga dan commitment jangka panjang untuk membesarkan anak (spesi yang tidak dimiliki organisma ini seperti binatang melata, tidak memiliki kasih sayang) dan sering membunuh dan /atau menghancurkan anaknya sendiri. Masa anak dan masa belajar panjang (long childhood) bersumber dari saling keterhubungan neuron-neuron dalam 'pabrik' otak ini.
* Amygdala adalah neuron yang mewujudkan struktur keterhubungan di atas brainstem dekat dasar dari limbic ring(cincin sumsum tulang belakang antara emosi dan rasio). Amygdala adalah tempat penyimpanan memori emosi.
Joseph Le Doux, neoroscientist dari Center for Neural Scince New York University menemukan peran penting amygdala dalam otak emosional. Amygdala menerima input langsung melalui alat dria dan memberikan signal kepada neocortex, namun juga dapat m
Dalam rangka Seminar Sehari tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar Anak dan Kurikulum Berbasis Komputensi di Sekolah Dasar
1. Pengaruh Pendidikan dan Pembelajaran Unggul
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya (Semiawan, C, 1997).Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100 - 200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas manusianya, tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Clark, 1986).
Lingkungan pendidikan dan berbagai pusat pelatihan serta tempat kerja kita kini juga dipengaruhi oleh lingkungan global yang merupakan berbagai pengaruh eksternal dalam dinamika berbagai aspek kehidupan di dunia, Lingkungan global yang mengadung pengertian tereksposnya kita oleh kehidupan komunitas global menuntut adaptasi masyarakat kita pada kondisi global dan pada gilirannya menuntut adaptasi individu untuk bisa bertahan di masyarakat di mana ia hidup.
Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi untuk mewujudkan aktualitasasi diri individu secara optimal dalam masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam hal kita, para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik. Interaksi yang terjadi dalam prilaku anak-anak kita. Namun secara reciprocal (timbal balik) perlakuan yang diterjadikan adalah cermin kehidupan masyarakat di mana ia hidup.
Menghadapi era global di masa yang akan datang, diharapkan kesadaran tentang reformasi pendidikan memenuhi kondisi masa depan yang dipersyaratkan (necessary condition to be fullfield). Kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berjalan, dan abad ke-21 serta abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad-abad baru, melainkan juga peradaban baru. Hal ini dikarenakan betapapun mengalami krisis moneter, Indonesia akan terkena juga oleh restrukturisasi global dunia yang sedang berlangsung. Restrukturisasi dunia, yang terutama ditandai oleh berbagai perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan aspek kehidupan lain, mempengaruhi setiap insan manusia, laki, perempuan, anak di negara berkembang maupun di negara maju, tidak terkecuali negara Indonesia, dan terutama berdampak terhadap orientasi pendidikan.
2. Perkembangan dan Pengukuran Otak
Sebagaimana tadi dikatakan, maka cara penggunaan sistem kompleks dari proses pengelolaan otak ini sebenarnya sangat menentukan inteligensi maupun kepribadian dan kualitas kehidupan yang dialami seorang manusia, serta kualitas manusia itu sendiri. Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan memungkinkan akselerasi proses berfikir(Thompsn, Berger, dan Berry, 1980 dalam Clark, 1986). Dengan demikian inteligensi manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe inteligensinya.
Secara biokimia neuron-neuron tersebut menjadi lebih kaya dengan memungkinkan berkembangnya pola pikir kompleks. Juga banyak digunakan berkembangnya aktivitas "Prefrontal cortex" otak, sehingga terjadi perencanaan masa depan, berfikir berdasarkan pemahaman dan pengalaman intuitif, Prefrontal cortex yang terutama tumbuh pada ketika anak berumur duabelas sampai enambelas tahun mencakup juga kemampuan melihat perubahan pola ekstrapolasi kecendrungan hari ini ke masa depan; regulasi diri serta strategi "biofeedback" dan meditasi; berfikir sistem analisis;yang merupakan aspek-aspek bentuk tertinggi kreativitas serta memiliki kepekaan sosial, emosional maupun rasional (Goodman, 1978, dalam Clark, 1986). Sifat-sifat manusia ini banyak terkait dengan sifat-sifat inisiatif dan dorongan mencapai kemandirian dan keunggulan.
Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak tersebut adalah pusat berfikir, perilaku serta emosi manusia mencerminkan seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan ingatannya. Descartes pusat kesadaran orang, ibarat saisnya, sedangkan badan manusia adalah kudanya. Meskipun kemudian ternyata, bahwa perilaku manusia juga dipengaruhi oleh ketidaksadarannya (freud dalam Zohar, 2000:39), kesadaran manusia yang oleh Freud disebut rasionya merupakan kemampuan umum yang mengontrol seluruh perilaku manusia. Berbagai penelitian kemudian membuktikan bahwa kemampuan rasional tersebut biasa diukur dengan IQ (Intelligence Quetient). Meskipun kini terbukti bahwa orang memiliki lebih dari satu inteligensi menurut teori Gardner ada 8 (teori Multiple Intelligence), ukuran yang disebut IQ mengukur kemampuan umum yang bersifat tunggal masih sering dipakai untuk menandai kemampuan intelektual dan prestasi belajar. Ternyata bahwa otak tersebut masih menyimpan berbagai kemungkinan lain.
"Celebral Cortex" otak dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut "corpus callosum". Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respons, tugas dan fungsi belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan yang kanan untuk mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua kemungkinan cara berfikir, yaitu cara berfikir logis, linier yang menuntut satu jawaban yang benar dan berfikir imaginatif multidimensional yang memungkinkan lebih dari satu jawaban.
3. Kecerdasan (Inteligensi) Emosional
* Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat (Segal, 1997:14). Pada permulaan tahun sembilan puluhan berbagai penelitian menunjukkan (Segal, 1997:5) bahwa diinspirasi oleh berbagai psikolog humanis seperti Maslow, Rollo May, Carl Rogers yang sangat memperhatikan segi-segi subyektif (perasaan) dalam perkembangan psikolog, eksplorasi tentang emosi telah menunjuk pada sumber-sumber emosi (Segal, 1997, Goleman, 1995).
Ternyata bahwa emosi selain mengandung persaan yang dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui (Menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls untuk bertindak.
Goleman menyatakan bahwa selain rational mind, seorang memiliki an emotional main yang masing-masing diukur oleh IQ dan EQ dan bersumber masing-masing dari head dan heart. kedua kehidupan mental tersebut, meskipun berfungsi dengan cara-caranya sendiri, bekerjasama secara sinergis dan harmonis.
* Homo sapiens yang memiliki neocortex(otak depan) yang merupakan sumber rasio, yaitu otak depan, terdiri dari pusat-pusat yang memahami dan mendudukan apa yang diamati oleh alat dria kita. Dalam evolusi tentang pengtahuan kemampuan organisma, ternyata bahwa penanjakan kehidupan manusia dalam peradaban dan kebudayaan adalah kerja neocortex yang ternyata juga menjadi sumber kemampuan seseorang untuk perencanaan dan strategi jangka panjang dalam mempertahankan hidup (Goleman, 1995:11).
Perkembangan ini menjadi otak memiliki nuansa terhadap kehidupan emosional seseorang. Struktur lymbic (sumsum tulang belakang) menghidupkan perasaan tentang kesenangan dan keinginan seksual, yaitu emosi yang mewujudkan sexual passion. Namun keterkaitan sistem lymbic tersebut dengan neocortex menumbuhkan hubungan dasar ibu-anak, yang menjadi landasan untuk unit keluarga dan commitment jangka panjang untuk membesarkan anak (spesi yang tidak dimiliki organisma ini seperti binatang melata, tidak memiliki kasih sayang) dan sering membunuh dan /atau menghancurkan anaknya sendiri. Masa anak dan masa belajar panjang (long childhood) bersumber dari saling keterhubungan neuron-neuron dalam 'pabrik' otak ini.
* Amygdala adalah neuron yang mewujudkan struktur keterhubungan di atas brainstem dekat dasar dari limbic ring(cincin sumsum tulang belakang antara emosi dan rasio). Amygdala adalah tempat penyimpanan memori emosi.
Joseph Le Doux, neoroscientist dari Center for Neural Scince New York University menemukan peran penting amygdala dalam otak emosional. Amygdala menerima input langsung melalui alat dria dan memberikan signal kepada neocortex, namun juga dapat m
Metoda pembelajaran matematika SMP
Berikut ini cara-cara atau metoda pembelajaran matematika tingkat sekolah menengah pertama (SMP) untuk berbagai pokok bahasan. Bahan-bahan tersebut disiapkan oleh P3G Matematika Depdiknas.
- Aljabar
- Aritmatika
- Aritmatika Sosial
- Geometri Dasar
- Geometri Ruang
- Peluang
- Pembelajaran Matematika Konstekstual
- Penalaran, Pemecahan Masalah dan Komunikasi
- Komputer sebagai Alat Bantu dalam Pembelajaran Matematika
- Psikologi Pembelajaran
- Prinsip Penilaian Pembelajaran Matematika Berbasis Kompetensi
- Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika
- Teknik Pengembangan Silabus Pembelajaran Matematika
Semoga bermanfaat. Akan tetapi jika Anda sibuk gak mau capek-capek dan membuang waktu Anda yang sangat berharga, kami sudah siapkan dalam bentuk CD tinggal anda pesan ke kami.
Info Biaya Produksi dan Pengiriman SMS :08122612635
Cara Pemesanan CD/VCD :
1. SMS ke 081 226 12635 CD yang dipesan dan alamat lengkap pengiriman. Atau e-mail ke nucleussmart@gmail.com
2. Kami akan memberikan konfirmasi pemesanan Anda.
3. Lakukan pembayaran biaya melalui transfer
Bank Mandiri Syariah
Cabang Solo, no rek 0175030285
an. Sidiq Budiyanto.
4. Konfirmasikan pembayaran Anda melalui SMS.
Format konfirmasi melalui sms:
pesancd # jumlah transfer # nama anda # paket yang dipesan # tanggal transfer
Untuk membedakan dengan yang lain, Tolong tambahkan dalam nilai transfer Bpk / Ibu 3 digit huruf terakhir no HP yang digunakan untuk menghubungi saya,
--- >> misalnya : No.Hp anda. 08564887444 dan nilai transfer Rp.50.000,- sehingga besarnya Dana yang di Transfer adalah Rp.50.444,-
5. CD/VCD akan dikirim ke alamat pengiriman, setelah konfirmasi pembayaran kami terima.
6. Pembayaran meliputi:
- Informasi Harga SMS ke 08122612635
- Biaya pengiriman menggunakan Paket Kilat Khusus: JNE
Label:
eLearning,
Model Interaksi Edukatif,
Multimedia
Langganan:
Postingan (Atom)
About Me
- sanjayatrade
Labels
- Artikel (3)
- Bahan Ajar (29)
- Bank Soal dan Tryout (1)
- Berita Pendidikan (29)
- Berita/NEWS (8)
- BSE (7)
- CD Interaktive (8)
- Cerita Fiksi (6)
- Daftar Harga BSE (15)
- Download Free (8)
- eLearning (19)
- Info Diknas (19)
- IPTEK (5)
- Kajian Islam (7)
- Kurikulum 2013 (1)
- LPMP (4)
- Metode Pembelajaran (21)
- Model Interaksi Edukatif (11)
- Multimedia (17)
- NUPTK (1)
- Perangkat Pembelajaran (32)
- PLPG (6)
- Promo (2)
- PTK (10)
- Rahasian Kaya (1)
- Rencana Menjadi Kaya (1)
- sertifikasi guru (8)
- Silabus dan RPP (33)
- Software (6)
- Software Sekolah (5)
- Tips (3)
- Tips Pendidikan (3)
- Tori Belajar (1)
- Tutorial (6)
- Tutorial Blogspot (2)
- UKG (8)
- Video (7)
- Web Design (5)
Followers
Diberdayakan oleh Blogger.

