Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Latar Belakang Pembelajaran Tematik

  • Rabu, 26 Januari 2011
  • sanjayatrade
  • Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada
    rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti
    IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat
    perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu
    memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih
    bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.

    Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I –III untuk setiap mata pelajaran
    dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa
    Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata
    pelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
    berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang
    masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang
    menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan
    anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

    Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah, muncul permasalahan pada
    kelas rendah (I-III) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas dan putus sekolah.
    Angka mengulang kelas dan angka putus sekolah peserta didik kelas I SD jauh lebih tinggi
    dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 1999/2000 memperlihatkan bahwa angka
    mengulang kelas satu sebesar 11,6% sementara pada kelas dua 7,51%, kelas tiga 6,13%,
    kelas empat 4,64%, kelas lima 3,1%, dan kelas enam 0,37%. Pada tahun yang sama angka
    putus sekolah kelas satu sebesar 4,22%, masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan
    kelas dua 0,83%, kelas tiga 2,27%, kelas empat 2,71%, kelas lima 3,79%, dan kelas enam
    1,78%.

    Angka nasional tersebut semakin memprihatinkan jika dilihat dari data di masing-masing
    propinsi terutama yang hanya memiliki sedikit taman Kanak-kanak. Hal itu terjadi terutama
    di daerah terpencil. Pada saat ini hanya sedikit peserta didik kelas satu sekolah dasar yang
    mengikuti pendidikan prasekolah sebelumnya. Tahun 1999/2000 tercatat hanya 12,61%
    atau 1.583.467 peserta didik usia 4-6 tahun yang masuk Taman Kanak-kanak, dan kurang
    dari 5 % Peserta didik berada pada pendidikan prasekolah lain.

    Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik
    kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian
    menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki
    kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti
    pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsipprinsip
    pembelajaran antara kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan prasekolah
    dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah
    pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.
    Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat
    dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar
    yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui
    pendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran
    tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan
    pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.

    B. Tujuan
    Tujuan penyusunan dokumen model pengembangan silabus tematik pada kelas awal
    Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:
    1. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran tematik.
    2. Memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran tematik yang sesuai
    dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar.
    3. Memberikan keterampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan, melaksanakan
    dan melakukan penilaian dalam pembelajaran tematik.
    4. Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga
    diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan
    pembelajaran tematik

    C. Ruang Lingkup
    Ruang lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi seluruh mata pelajaran pada
    kelas I - III Sekolah Dasar, yaitu: Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu
    Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya
    dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga dan Kesehatan.

    0 komentar:

    Posting Komentar